Potretkota.com – Kendati telah memasuki era digital, keyakinan masyarakat akan sebuah mitos terhadap terjadinya sesuatu, diakibatkan hal gaib yang tidak sinkron atau tidak sejalan dengan meta fakta. Seperti halnya yang terjadi saat terbakarnya patung singa ketika karnaval di Kabupaten Gresik, Jawa Timur sedang berlangsung untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan RI ke-77.
Patung singa yang didominasi warna kuning hasil karya warga RT 10 RW 03 Dusun Sidoadi, Desa Sembayat, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur terbakar saat karnaval berlangsung, Rabu lalu, (17/08/2022). Peristiwa ini pun menghebohkan warga yang datang berduyun-duyun untuk menyaksikan karnaval yang sempat vakum akibat pandemi selama 3 tahun terakhir.
Baca juga: Terdakwa Adji Kusumo Akui Tahan Dana PT Tiga Macan Rp208 Juta
Ketua Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) Imam mengatakan, terbakarnya patung singa buatan warga Dusun Sidodadi RT 10 dengan biaya jutaan itu, diakibatkan percikan api petasan yang ada di atas kepala patung singa tersebut. Peristiwa terbakarnya patung singa ini pun diakuinya sebagai bagian dari atraksi yang dilakukan warganya, selaku peserta karnaval.
“Biasa itu sebagian dari atraksi kita, tapi gak apa-apa kok aman,” ujar pria yang akrab disapa Bobol kepada Potretkota.com melalui selulernya, Kamis (18/08/2022).
Terpisah, saat dikonfirmasi tentang peristiwa terbakarnya patung singa warga Sidodadi, Camat Manyar, Gresik, Jainul membenarkan kejadian itu. Ia pun mengaku telah mendapat informasi dari warga bahwa kebakaran patung singa diakibatkan percikan api petasan. “Oh, infonya tadi karena mercon, cuma tidak apa-apa, aman sampai finish,” ungkap Jainul, membenarkan.
Baca juga: Hibah Pokir Kusnadi DPRD Jatim Mengalir ke KPU dan Bawaslu
Sementara itu, pegiat supranatural Ki Amri Pamungkas asal Surabaya menduga terbakarnya patung singa warga Sidodadi, Gresik tersebut dikarenakan minimnya kegiatan ritual sebelum dilaksanakannya acara karnaval. Menurutnya, kegiatan apapun, apalagi kegiatan yang melibatkan banyak orang, setidaknya ada ritual Kulo Nuwun Ingkang Sinuhun Sing Mbaurekso.
“Harus ada itu, apalagi saya pernah ngobrol langsung dengan warga setempat. Desa Sembayat ini bukan desa sembarang desa, ada aura yang sangat kuat yang terpancar dari desa ini. Ada sebuah kerajaan besar yang tak kasat mata,” terang Ki Amri.
Baca juga: Korlap Pokmas Kusnadi Wilayah Bojonegoro Untung Banyak, Hakim: Orang Ini Belum Tersangka?
Ki Amri mengungkapkan, terakhir kali sebelum pandemi, puluhan warga Sidodadi yang ikut gelaran karnaval Desa Sembayat kesurupan. Pasalnya kala itu, warga tidak meminta izin kepada Nyai Roro Kidul ketika membuat patungnya untuk diikutsertakan karnaval. “Sehingga Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul murka dan memerintahkan pasukannya untuk mengacaukan karnaval tersebut,” tukas Ki Amri.
Perlu diketahui, gelaran karnaval diikuti oleh 23 peserta karnaval. Salah satu pesertanya dari Dusun Sidodadi RT 10 RW 03, Sembayat, Gresik. Karnaval digelar untuk memperingati HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara ini merupakan tradisi budaya di Desa Sembayat yang diadakan setiap tanggal 17 Agustus.(SA)
Editor : Redaksi