FMMM Anggap PT Granting Jaya Lakukan Pembelokan Fakta

potretkota.com
nelayan menolak reklamasi Surabaya Waterfront Land

Potretkota.com - Para nelayan kembali unjuk rasa soal Surabaya Waterfront Land (SWL), Rabu (30/10/2024). Mereka beraksi diatas kapal sembari membentangkan bendera Indonesia dan tolak reklamasi.

Alasan unjuk rasa, mereka menolak survei yang dilakukan kementerian dalam mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN). Warga menganggap PT Granting Jaya sudah melakukan pembelokan fakta.

Baca juga: Hakim PN Surabaya Keluhkan Pendemo Bawa Sound Besar 

"Kami merasa dicurangi oleh mereka (PT Granting Jaya). Saat ini mereka bersama Kementerian Pertahanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan Perikanan Jawa Timur, dan sebagainya, sedang melakukan survey terkait PSN ini," kata Koordinator Forum Masyarakat Madani Maritim (FMMM), Heroe Budiarto.

Menurut Heroe Budiarto, PT Granting Jaya sudah melakukan pembelokan fakta atas kajian ilmiah yang pernah dilakukan oleh Institut Teknik Sepuluh November (ITS). Fakta kajian tersebut, berisikan adanya penurunan indeks ekonomi masyarakat pesisir kota Surabaya sebesar 14 persen.

Baca juga: Surabaya Pesisir yang Selalu Siap, Kecuali Saat Air Datang

Namun, fakta penurunan indeks ekonomi ini tidak dicantumkan oleh pihak PT Granting Jaya kepada Pemerintah Pusat, sehingga hal inilah yang menjadikan polemik reklamasi tersebut semakin ricuh.

"Mereka (PT Granting Jaya) memanfaatkan kajian ilmiah dari ITS, namun kenapa soal penurunan indeks ekonomi masyarakat pesisir sebesar 14 persen tidak dicantumkan saat audiensi dengan pemerintah pusat ?" keluhnya.

Baca juga: Demo Gerakan Pemuda Demokrasi di Kantor Demokrat Jatim Batal

Dijelaskan Heroe Budiarto, jika reklamasi pembangunan pulau baru dilakukan, akan berdampak pada pencaharian nelayan. "Nelayan akan kehilangan mata pencaharian terhadap kerang kupang, kerang dara, kerang manuk (kapak), jangkang, kepiting, jambal, belanak, dukang, keting, udang, nener, kakap, kerapu, kuniran, layur dan mimi. Para petani tambak akan kehilangan mata pencarian karena kemrosotan produktivitas hasil tambak, karena kualitas air dan banjir yang ditimbulkan oleh proyek tersebut," tegasnya. (Hyu)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru