Potretkota.com - Solidaritas Pemuda Mahasiswa Merah Putih (SMPMP), menyelenggarakan acara FGD (Focus Group Discussion), di Gedung Taman Badaya Surabaya, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Selasa (28/10/2025).
Dalam kesempatan ini, hadir narasumber dari Dosen Unair Suko Widodo, Anggota DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni dan Cahyo SIswo Utomo, Anggota DPRD Jatim Hidayat dan Sri Wahyuni.
Baca juga: Nama Korlap Hibah Pokir Kusnadi DPRD Jatim Dibongkar Lagi, Duh!
Korwil SMPMP Aqyas Soleh mengatakan, acara ini pesertanya dari gabungan mahasiswa dan seluruh organisasi kepemudaan. “Pada intinya pertemuan ini memastikan bahwa komunikasi antar pihak negara, perwakilan daripada pengurus negara dengan masyarakat tidak mengalami suatu kebuntuan,” katanya.
“Kedepan kita harapkan bahwa ruang-ruang dialog terbuka, sehingga amarah-amarah tidak tersalurkan dengan kembalinya momentum-momentum yang seperti terjadi ketika 25 Agustus sampai tanggal 29 Agustus kemarin,” tambahnya.
Baca juga: Terdakwa Hasanuddin Serahkan Uang ke Sae’an Choir Rp2,5 Miliar
Soleh sapaan akrabnya dalam momen Sumpah Pemuda, punya makna tersendiri. “Kami meyakini bahwa Sumpah Pemuda adalah momentum merefleksikan diri bahwa hari ini kita sudah mengalami fase yang begitu panjang, baik aksi 98 sampai hari ini bentuk evaluasi kita sebagai mahasiswa,” terangnya, bahwa ia juga mengedepankan sisi-sisi akademis.
Salah satunya, menurut Soleh untuk menyampaikan suatu pendapat atau aspirasi bisa di tempat-tempat yang sudah disediakan. “Bahwa demonstrasi adalah memang suatu gerakan yang memang harus terjadi, tetapi lebih mengedepankan hal-hal yang lebih kondusif,” imbuhnya.
Panitia, dalam kegiatan ini juga menyediakan petisi. “Salah satu yang kita suarakan adalah solidaritas berkaitan dengan kawan-kawan aktivis aksi Agustus yang sampai hari ini masih ditahan,” ujarnya.
Baca juga: Nama Sae’an Choir P2SEM Muncul di Sidang Hibah Pokir DPRD Jatim
“Ini suatu permasalahan kita bersama, bahwa aktivis juga memiliki tugas dan ruang untuk mengekspresikan pendapatnya, bukan kemudian dianggap orang-orang yang mengganggu atau mau merusak tatanan demokrasi yang ada di Indonesia,” jelasnya.
Acara FGD atau dialog bersama akademisi dan perwakilan rakyat, Soleh menilai pernyataan narasumber normatif. “Cuma tadi kita menemukan titik-titik terang, bahwa ke depan forum-forum seperti ini harus digalakkan. Forum-forum seperti ini juga bisa menjadi media untuk teman-teman menyalurkan semua ide-ide, pikiran-pikiran maupun gagasan-gagasan,” pungkasnya. (Hyu)
Editor : Redaksi