Dorong Restorasi Pesisir

TPS Siapkan 10.000 Bibit Mangrove: Solusi Ekologis atau Sekadar Etalase Hijau Korporasi?

Reporter : Achmad Syaiful Bahri
Petani sedang menyiapkan media tanam untuk tumbuhan jenis Rhizophora Mucronata.

Potretkota.com - Terminal Petikemas Surabaya (TPS) kembali mempromosikan komitmen lingkungannya lewat program pembibitan mangrove Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan. Sebanyak 10.000 bibit Rhizophora Mucronata tengah dibudidayakan.

Angka yang terdengar impresif, namun di tengah tekanan ekologis pesisir Surabaya, publik berhak bertanya, Apakah ini solusi nyata atau sekadar seremoni hijau yang makin populer di dunia korporasi?

Baca juga: BPOM dan TPS Lepas Ekspor Rempah ke Amerika Serikat

Mangrove jenis Rhizophora Mucronata memang dikenal tangguh, mampu menahan abrasi, mengikat sedimen, mendukung keanekaragaman hayati, sekaligus menyerap karbon biru. Tapi efektivitasnya tidak cukup hanya ditopang dari pembibitan, keberlanjutan jangka panjang butuh lebih dari sekadar publikasi program.

Bekerja sama dengan kelompok petani mangrove Kompak Mandiri Lestari, TPS mengembangkan bibit melalui proses seleksi propagul, penyiapan media tanam, hingga pemantauan rutin. Proses teknis ini disebut terukur.

Namun pertanyaannya, apakah program ini juga terukur dalam hal dampak jangka panjang, keterlibatan komunitas pesisir, serta konsistensi perawatan setelah penanaman? Banyak program serupa berhenti di fase dokumentasi tanam bersama.

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menegaskan bahwa program ini merupakan strategi berkelanjutan perusahaan. “Pembibitan Rhizophora mucronata ini merupakan langkah strategis TPS untuk memastikan keberlanjutan program mangrove yang telah kami jalankan,” tegas Erika.

Namun pernyataan itu menimbulkan refleksi, sejauh mana strategi ini menjawab persoalan konkret seperti degradasi pesisir, tekanan industri, hingga hilangnya ruang ekologis di sekitar kawasan pelabuhan?

Baca juga: BCMS di TPS: Standar Internasional atau Sekadar Formalitas Pelabuhan?

TPS juga membuka peluang kolaborasi dengan memberikan bibit secara gratis untuk program restorasi pesisir. “Silakan berkoordinasi dengan Tim TJSL TPS untuk kolaborasi lebih lanjut. Ini merupakan bentuk kontribusi nyata kami dalam menghadirkan manfaat ekologis yang berkelanjutan,” tambah Erika.

Akan tetapi sekali lagi, apakah TPS akan memastikan keberhasilan penanaman, atau bibit hanya berpindah tangan tanpa pendampingan yang memadai?

Program ini ditargetkan siap tanam pada April 2026. Sebuah timeline ambisius yang sekaligus menjadi ujian, apakah TPS akan mampu menjaga ritme komitmen, atau justru terjebak dalam pola green branding yang hanya mempercantik citra?

Baca juga: TPS Dukung Literasi Digital, Wujudkan Sekolah Melek Teknologi

Melalui Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan, TPS mengklaim mempertegas komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG). Sebuah jargon modern yang sering terdengar, namun belum selalu sejalan dengan praktik lapangan.

“Keberlanjutan adalah warisan yang ingin kami bangun untuk masa depan,” tutup Erika.

Kalimat yang kuat, tetapi publik berhak menanyakan hal yang lebih mendasar, apakah warisan itu akan tumbuh menjadi ekosistem nyata yang melindungi pesisir Surabaya, atau hanya akan tersimpan sebagai narasi optimistis dalam laporan tahunan perusahaan? (ASB)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru