Klaim Siap Hadapi Gangguan

BCMS di TPS: Standar Internasional atau Sekadar Formalitas Pelabuhan?

Reporter : Achmad Syaiful Bahri
Pekerja TPS sedang mengikuti sosialisasi BCMS

Potretkota.com - Di tengah makin padatnya arus logistik nasional, Terminal Petikemas Surabaya (TPS) kembali menegaskan bahwa mereka telah menerapkan Business Continuity Management System (BCMS) berbasis ISO 22301. Namun di balik klaim kesiapsiagaan itu, muncul pertanyaan, sejauh mana standar tersebut benar-benar bekerja ketika gangguan nyata terjadi?

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menyebut BCMS sebagai kebutuhan mendesak karena TPS menjadi simpul penting dalam rantai pasok nasional. Ia menegaskan bahwa layanan harus tetap berjalan tanpa gangguan signifikan, meski ada potensi risiko seperti kegagalan sistem IT, bencana, kecelakaan kerja, hingga kebakaran.

Baca juga: BPOM dan TPS Lepas Ekspor Rempah ke Amerika Serikat

Namun pernyataan tersebut juga membuka ruang evaluasi, apakah seluruh potensi ancaman telah dipetakan secara realistis, atau sekadar mengikuti compliance standar internasional?

TPS menyampaikan bahwa mereka rutin melakukan simulasi darurat, pengujian pemulihan sistem operasional, hingga pelatihan kesiapsiagaan. Tetapi para pengguna jasa kerap menilai bahwa praktik di lapangan masih menyisakan celah, mulai dari waktu pemulihan yang dianggap lambat, antrian gate yang kadang mengular, hingga gangguan teknis sistem yang belum sepenuhnya dapat dihilangkan.

Baca juga: TPS Siapkan 10.000 Bibit Mangrove: Solusi Ekologis atau Sekadar Etalase Hijau Korporasi?

Erika menyebut BCMS sebagai bagian untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan dan memastikan reliabilitas layanan. Namun dalam konteks pelabuhan yang menjadi nadi ekspor-impor, reliabilitas bukan sekadar jargon manajemen risiko. Ia menuntut bukti nyata, respons cepat, transparansi ketika insiden terjadi, serta konsistensi kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh pelaku logistik.

Penerapan BCMS ini diklaim sejalan dengan upaya Pelindo Group memperkuat tata kelola risiko. Tetapi kembali, publik menunggu bukti bahwa sistem-sistem ini bukan hanya dokumentasi atau audit tahunan, melainkan benar-benar menjadi instrumen yang mempercepat pemulihan dan menjaga kelancaran arus barang.

Baca juga: TPS Dukung Literasi Digital, Wujudkan Sekolah Melek Teknologi

Ke depan, TPS menyebut akan meningkatkan kompetensi SDM dan memperkuat koordinasi dengan instansi pelabuhan. Komitmen tersebut penting, namun industri logistik membutuhkan lebih dari sekadar rencana, mereka butuh jaminan bahwa ketika situasi kritis dating, mulai dari gangguan server, cuaca ekstrem, hingga insiden operasional, TPS tidak hanya siap secara teori, tetapi juga terbukti tangguh di lapangan. (ASB)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru