Bukan Sekadar Perang Saudara

Yaman Jadi Arena Rivalitas Proksi Global di Kawasan Selatan

Reporter : Achmad Syaiful Bahri
Fahim Attamimi, S.H., M.H., Pengamat isu politik Timur Tengah.

Potretkota.com - Konflik berkepanjangan di Yaman kian menunjukkan wajah yang lebih kompleks. Tidak lagi semata dipahami sebagai perang saudara atau pertarungan antarkelompok lokal, Yaman kini dipandang sebagai arena benturan kepentingan regional dan global, dengan aktor-aktor domestik berfungsi sebagai perpanjangan tangan kekuatan eksternal.

Pengamat isu politik Timur Tengah, Fahim Attamimi, S.H., M.H., menilai eskalasi ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dua negara yang sebelumnya berada dalam satu koalisi, menjadi indikator kuat pergeseran konflik ke arah rivalitas proksi terbuka, khususnya di wilayah Yaman Selatan.

Baca juga: Jemaah Haji Pulang Dalam Situasi Tak Kondusif di Timur Tengah

“Yaman tidak lagi diperlakukan sebagai negara berdaulat, melainkan sebagai ruang geopolitik yang dikendalikan oleh kepentingan regional dan global,” ujar Fahim kepada media, Jumat (02/01/2026).

Ketegangan terbaru mencuat setelah Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) menuduh Arab Saudi melakukan serangan udara di wilayah Hadramaut pada akhir Desember 2025. Tuduhan ini dinilai mencerminkan memburuknya hubungan Saudi–UEA, meski keduanya sama-sama menentang dominasi kelompok Houthi.

Menurut Fahim, konflik Yaman tidak bisa dilepaskan dari perebutan pengaruh atas sumber daya alam, pelabuhan, serta jalur perdagangan strategis di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden. Dalam konteks ini, Arab Saudi dan UEA juga beririsan dengan kepentingan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Israel.

“Keamanan jalur pelayaran internasional menjadi kepentingan bersama, tetapi persaingan muncul dalam menentukan siapa aktor dominan di kawasan. Yaman akhirnya menjadi korban tarik-menarik kepentingan tersebut,” kata Fahim.

Ia menambahkan, lumpuhnya fungsi pelabuhan-pelabuhan Yaman bukan sekadar dampak konflik, melainkan bagian dari realitas geopolitik. Pelabuhan Yaman dinilai berpotensi menjadi pesaing langsung pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan Teluk, sehingga konflik berkepanjangan secara efektif menyingkirkan Yaman dari persaingan ekonomi maritim regional.

Baca juga: Pelindo 3 Kirim Bantuan Obat dan Pakaian ke Palestina

Dalam analisisnya, Fahim menjelaskan bahwa UEA cenderung memandang Yaman Selatan sebagai ruang strategis maritim dan ekonomi. Dukungan Abu Dhabi terhadap STC dan aktor-aktor bersenjata lokal memungkinkan penguasaan atas pelabuhan, pulau strategis, dan jalur perdagangan penting.

Sementara itu, Arab Saudi lebih menitikberatkan pendekatan keamanan nasional dan stabilitas perbatasan. Riyadh dinilai semakin waspada terhadap ekspansi aktor bersenjata non-negara, termasuk kelompok yang berafiliasi dengan kepentingan UEA.

“Bagi Arab Saudi, aktor-aktor bersenjata ini tidak lagi dipandang sebagai mitra taktis semata, tetapi berpotensi menjadi ancaman langsung terhadap keamanan wilayah selatan kerajaan,” ujarnya.

Baca juga: Polres Pasuruan Kirim Bantuan Korban Palestina

Fahim menilai Arab Saudi kini berupaya mempertahankan prinsip persatuan Yaman melalui solusi politik yang inklusif, dengan mengandalkan hubungan dengan suku-suku lokal dan struktur sosial tradisional, khususnya di wilayah timur Yaman yang kaya sumber daya.

Ia mengingatkan bahwa fragmentasi Yaman yang terus berlanjut tidak hanya memperpanjang penderitaan rakyat, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan Laut Merah sebagai salah satu jalur perdagangan global terpenting.

“Selama Yaman tetap menjadi arena rivalitas proksi, perdamaian akan sulit tercapai. Tantangan utamanya bukan hanya menghentikan kekerasan, tetapi memutus logika proksi yang menjadikan Yaman sebagai alat tawar-menawar geopolitik,” pungkas Fahim. (ASB)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru