Apotek Pendidikan di Surabaya Ubah Paradigma Layanan Kefarmasian

potretkota.com
(kiri) Yusuf Alif Pratama

Potretkota.com - Paradigma apotek sebagai tempat membeli obat perlahan mulai berubah. Di Surabaya, sebuah apotek menghadirkan konsep baru sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa farmasi sekaligus pusat edukasi kesehatan bagi masyarakat.

Konsep ini diwujudkan melalui Apotek Oksi Farma di kawasan Sememi. Apotek ini tidak hanya berfungsi sebagai layanan kefarmasian, tetapi juga sebagai apotek pendidikan yang menyediakan tempat praktik berstandar profesional bagi mahasiswa.

Baca juga: BEM FH UNTAG Surabaya Gelar Mimbar Bebas “Demokrasi 4.0”

Apoteker Oksi Farma yang juga dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Yusuf Alif Pratama, menjelaskan bahwa kehadiran apotek pendidikan bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap fungsi apotek.

“Selama ini apotek sering dipandang hanya sebagai tempat membeli obat. Padahal, apotek juga harus menjadi tempat meningkatkan kesehatan masyarakat, tidak hanya menyediakan produk obat, tetapi juga memberikan informasi penggunaan obat yang benar,” ujar Yusuf, Sabtu (4/4/2026).

Ia menekankan pentingnya edukasi terkait penggunaan obat. Menurutnya, kesalahan pemahaman dapat berdampak pada efektivitas pengobatan. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah anggapan bahwa aturan minum obat tiga kali sehari sama dengan setiap delapan jam, padahal keduanya memiliki makna medis yang berbeda.

“Obat yang efektif, aman, dan berkualitas harus disertai informasi yang tepat. Tanpa informasi yang benar, efektivitas obat bisa menurun,” katanya.

Selain melayani masyarakat, apotek pendidikan juga berperan sebagai tempat praktik bagi mahasiswa farmasi sebelum terjun ke dunia kerja. Di tempat ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghadapi langsung kasus kesehatan di masyarakat.

Yusuf menjelaskan, pihaknya tengah menyiapkan sistem pembelajaran yang komprehensif, mulai dari kurikulum praktik, standar operasional prosedur (SOP), hingga dokumen mutu yang sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian.

“Kami ingin menciptakan atmosfer belajar seperti co-working space. Mahasiswa bisa berdiskusi, belajar, sekaligus melayani pasien dengan pendampingan apoteker. Ini bukan sekadar praktikum, tetapi praktik nyata di masyarakat,” jelasnya.

Baca juga: Mahasiswa Pasuruan Raya Desak Penegakan HAM dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis

Apotek ini juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi farmasi di Surabaya dan Jawa Timur. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses mahasiswa terhadap tempat praktik yang terstandar.

“Harapan kami, apotek pendidikan bisa menjadi pionir di Jawa Timur dalam membentuk tenaga farmasi yang siap terjun ke masyarakat dan memberikan dampak langsung bagi kesehatan,” tambahnya.

Bagi mahasiswa, pengalaman praktik di apotek pendidikan menjadi kesempatan penting untuk memahami kondisi kesehatan masyarakat secara langsung.

Mahasiswa semester akhir Fakultas Farmasi Universitas Adi Buana Surabaya, Tania Rachmawati Karina, mengaku praktik di apotek memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran di kampus.

“Di kampus kita lebih banyak belajar teori, sedangkan di masyarakat kita menghadapi langsung berbagai kasus penyakit. Itu membuat kita belajar lebih cepat dan memahami kebutuhan pasien,” ujarnya.

Baca juga: Uang Aries Agung Peawai Kadindik Jatim Rp20.050.000 Dikembalikan

Ia menilai kehadiran apotek pendidikan membantu mahasiswa memahami pola penyakit yang umum terjadi di masyarakat, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, dan diabetes. Selain itu, kemampuan komunikasi juga menjadi keterampilan penting yang harus dikuasai tenaga farmasi.

“Kita harus sabar dan menggunakan bahasa yang sederhana agar masyarakat bisa memahami informasi obat dengan baik,” katanya.

Tidak hanya menjadi tempat praktik, apotek pendidikan juga berperan dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa bersama apoteker dapat terlibat langsung dalam sosialisasi penggunaan obat yang benar hingga pencegahan resistansi antibiotik.

Melalui konsep ini, apotek pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga wadah kontribusi nyata perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, sejalan dengan implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. (KF)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru