Potretkota.com - Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI Jatim (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Jawa Timur) menggelar aksi unjuk rasa di Surabaya, menolak kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah serta mengajak masyarakat menandatangani petisi penghentian program tersebut di depan Gedung Negara Grahadi, Rabu (17/6/2026).
Dalam orasinya, mahasiswa menilai kondisi negara saat ini tidak sedang baik-baik saja. Mereka menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program MBG melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dibandingkan sektor lain yang dinilai lebih mendesak.
Baca juga: Hari Ini Ribuan Mahasiswa Aliansi BEM Surabaya Demo di Grahadi
"Hari ini, Kesatria Airlangga tidak tinggal diam. Kami menyampaikan bahwa negara sedang tidak baik-baik saja. Bayangkan, ada satu lembaga yang hari ini lembaga baru tetapi anggarannya malah mengalahi pendidikan dan kesehatan, dan saat ini menjadi anak emas presiden," ujar orator dalam aksi tersebut.
Massa aksi juga menyampaikan penolakan terhadap keberlanjutan program MBG. Mereka menilai program tersebut tidak menjawab kebutuhan utama generasi muda saat ini. MBG dinilai telah memiliki banyak persoalan, bahkan sudah masuk dalam ranah penegakan.
Selain itu, massa menyoroti keberadaan sejumlah pejabat lama di lingkungan Badan Gizi Nasional yang dinilai masih dipertahankan. Mereka mengajak masyarakat mendukung petisi yang telah disiapkan. Mahasiswa secara tegas menolak adanya MBG dan mengajak seluruh masyarakat untuk menandatangani petisi untuk menghentikan Makan Bergizi Gratis.
Baca juga: BEM FH UNTAG Surabaya Gelar Mimbar Bebas “Demokrasi 4.0”
Sementara itu, orator lain menilai program MBG terlalu berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan tanpa diimbangi peningkatan kualitas pendidikan. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas merupakan kebutuhan utama untuk mewujudkan generasi emas Indonesia pada tahun 2045.
"Generasi seperti apa yang diinginkan oleh negara? Apakah generasi yang hanya kenyang isi perutnya atau generasi yang penuh akan isi pikirannya?" ujarnya di hadapan peserta aksi.
Baca juga: Mahasiswa Pasuruan Raya Desak Penegakan HAM dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis
Ia menegaskan bahwa program MBG hanya memberikan manfaat jangka pendek, sementara pendidikan memiliki dampak yang lebih luas bagi masa depan bangsa. Menurutnya, generasi muda membutuhkan pendidikan yang berkualitas, kebebasan berpikir, dan ruang untuk bersikap kritis terhadap kebijakan publik.
"Yang dibutuhkan adalah pendidikan berkualitas. Bukan hanya perut yang kenyang, tapi pikiran yang bebas dan merdeka," tegasnya. (ASB)
Editor : Redaksi