Pasien Katarak Belum Bisa Menggunakan BPJS

potretkota.com

Potretkota.com - Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Anfasa Moeloek SPM (K), mengatakan, bahwa pasien katarak belum bisa menggunakan Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk berobat.

Alasannya, biaya untuk pengobatan mata terlalu tinggi. Padahal hal itu, akan menghambat penderita kurang mampu untuk berobat. "ini jadi permasalahan di BPJS, dan kita masih bicarakan," kata Nila Moeloek saat di acara Peringatan Hari Penglihatan Sedunia di Pusletbang, Jl. Indra Pura, Surabaya, Kamis (11/10/2018).

Baca juga: Pembayaran 16 Ribu Pasien SKTM RSUD dr Ishak Disunat

Mengingat penderita katarak di Indonesia sangat tinggi, Menteri Kesehatan berharap, pihak BPJS bisa menanggung pasien katarak. Sebagaimana Data Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan 50% kebutaan warga Indonesia disebabkan oleh katarak. Sekitar 1,5�ri 2 juta penduduk adalah penderita katarak, dan setiap tahunnya bertambah sebanyak 240 ribu orang penderita katarak yang terancam mengalami kebutaan.

Perempuan kelahiran 1949 ini menghimbau, agar masyarakat menggunakan kaca mata yang mampu melindungi kesehatan matanya dari pengaru sengatan panas matahari, ataupun sinar ultraviolet.

Baca juga: Cegah Superflu, Warga Surabaya Vaksinasi Sebelum ke Luar Negeri 

"Sinar matahari dapat menyebabkan katarak. Untuk menghindari itu, pakai kacamata. Tapi Kacamata untuk kesehatan, bukan yang buat gaya-gayaan," ungkap Menteri Kesehatan kabinet kerja Joko Widodo.

Sedangkan di Jawa Timur sendiri kurang lebih ada 4,4 persen penderita katara. Meski begitu terkait agar pasien bisa menggunakan pelayanan BPJS, Kepala Dinas Kesehatan Jatim, akan bersinergi dengan upaya pemerintah untuk mendorong agar pasien dapat menggunakan pelayanan dari BPJS. "Diupayakan juga," kata dr. Kohar Hari Santoso yang ikut hadir di acara tersebut.

Baca juga: Rasiyo DPRD Jatim Dilaporkan, Demokrat Diam atau Melawan?

Perlu diketahui, bahwa Hari Penglihatan (Wold Sight Day) diperingati setiap tahun pada hari Kamis, pekan kedua Oktober. Sedangkan peringatannya dimulai sejak tahun 1998 oleh Lions Club Internasional kemudian diintegrasi menjadi VISION 2020 di bawah Wold Health Organization (WHO). (Qin)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru