Potretkota.com - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam PMKRI, GMKI, LDF, GMNI, IMM, PMII, KAMUS PR, KAMMI, dan HMI beraksi di depan gedung DPRD Kota Surabaya. Kedatangannya menyorot UU No 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (MD3), Selasa (26/2/2018).
Kedatangannya, membuat macet jalanan Yos Sudarso Surabaya. Selang beberapa menit kemudian, Massa pun disambut Wakil DPRD Kota Surabaya, Ir. H. Masduki Toha. Dalam sambutannya, anggota fraksi PKB ini awalnya mendukung dan sepakat terhadap penolakan revisi UU MD3.
“Kita tidak tau menahu urusan ini. Kami juga tidak pernah diajak bicara oleh DPR RI, jadi kami tidak punya wewenang. Nanti aspirasi ini kami sampaikan dan kami tandatangani,” kata Masduki Toha dihaapan mahasiswa.
Namun, karena dianggap secara pribadi Masduki Toha yang menemui masaa, mahasiswa minta pria kelahiran 1963 tanda tangan sendiri, bukan mewakili semua DPRD Kota Surabaya. “Kami meminta semua mendukung dan tanda tangan disini,” teriak koordinator aksi, Esradus diamini ratusan mahasiswa.
Sayang, Masduki yang awalnya sepakat memanggil anggota DPRD Surabaya lain ternyata malah menghilang. Setelah menunggu tidak datang, ratusan mahasiswa pun marah, mereka sembari menunggu tidur dijalanan. Aksi ini ternyata tidak direstui oleh pihak Polrestabes Surabaya. Jalanan Yos Sudarso Surabaya kembali macet. Karena jalan tertutup, Polisi pun membangunkan paksa ratusan mahasiswa.
Mahasiswa yang tidak terima, lalu mencoba menerobos pintu gerbang DPRD Kota Surabaya. Lagi-lagi aksi brutal ini dihadang oleh polisi. “Saya peringatkan jangan brutal,” kata Kabag Ops Polrestabes Surabaya, AKBP Bambang Sukmo Wibowo, S.I.K, S.H, M.hum.
.jpg)
Peringatan ini sama sekali tidak digubris oleh ratusan mahasiswa. Penerus bangsa ini malah kembali ke tengah jalan dan memblokir Jalanan Yos Sudarso Surabaya. Polisi yang geram lalu menghajar mahasiswa. Akibatnya, puluhan para intelektual ini cidera. Koordinator aksi Esradus akhirnya menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo Surabaya. (Tio)
Editor : Redaksi