Berharap Dapat Bantuan dari Pemerintah

Aspednak Bantu Atasi Penyebaran Virus Babi

avatar potretkota.com

Potretkota.com - Virus African Swine Fever (ASF) atau dikenal dengan demam babi Afrika menyerang peternakan babi di Indonesia. Akibatnya, Singapura tidak menerima babi import dari Indonesia.

Baru-baru ini, babi-babi yang terkena virus afrika ramai jadi bahan pembicaraaan berasal dari Pulau Bulan, Batam, Provinsi Riau, dan menyebar ke Provinsi lainnya di Indonesia. Diinformasikan, Jawa Timur terkena wabah tersebut sekitar tahun 2020-2021 lalu.

Baca Juga: Ular Piton Sembunyi di Lantai Rumah Warga Panduk Kalirungkut

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian atau BBKP Surabaya, Drh. Cicik Sri Sukarsih MH melalui Pegawai Fungsional Drh. Heli Afiantoro M.Vet, awalnya virus babi afrika masuk ke Indonesia tahun 2019 lalu dan kemudian menyebar di 18 Provinsi.

Dianggap Biosecurity saat itu lemah, sehingga jutaan babi di Indonesia mati. Termasuk peternak di Jawa Timur yang mengalami dampak kerugian tersebut. “Jadi saat ini memang larang ekspor adalah babi ke Singapura. Karena di Indonesia sendiri ada kasus wabah yang namanya African Swine Fever. Hal ini disebabkan oleh virus dari keluarga asf virus. Dan virus ini bukan sonosis, artinya tidak menular ke manusia. Untuk Jawa Timur sendiri, hanya untuk konsumsi lokal, jadi tidak ada yang ekspor,” jelas Heli Afiantoro, Jumat (12/5/2023) kemarin.

Baca Juga: Kadis Peternakan Jatim Enggan Komentari Soal PMK, Ada Apa?

Senada disampaikan Ketua pelaksana Asosiasi Pengusaha dan Peternak Daging (Aspednak) Indonesia, Renny Arijani. Virus babi afrika tidak menular ke manusia atau hewan ternak lain, seperti kambing dan sapi. “Jadi hanya menular antar babi saja,” ujarnya.

Selama ini, Aspednak sudah membantu pemerintah menanggulangi adanya penyebaran virus babi di Malang. “Jadi peternak babi yang berhasil kami bina berasal dari Malang. Peternaknya sekarang sudah modern, kandang menggunakan sistem closos (sistem perternakan yang tertutup dan suhu yang bagus). Tentu menggandeng ahli nutrisi ataupun praktisi untuk sosialisasi agar babi tetap sehat,” jelasnya.

Baca Juga: Keuntungan Ternak Babi Menurut Ketua Aspednak

Diakui Aspednak, babi biasa digunakan sebagai konsumsi umat beragama selain Islam, atau agama minoritas. Meski demikian, karena babi juga dimakan oleh manusia, hal ini menjadi dasar tolak ukur untuk mambantu sesama. “Ini soal kemanusian. Harapannya agar wabah ini juga diperhatikan dan diberi bantuan oleh Pemerintah, karena negara kita ini Pancasila. Kalau babi tidak diurusi pemerintah itu salah,” tegas ibu tiga anak ini. (Hyu)

Berita Terbaru