Potretkota.com - Berbagai masyarakat dan organisasi masyarakat di Surabaya mendukung kotak kosong pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Surabaya, salah satunya dari Gerakan Rakyat Dukung (Gardu) Prabowo.
Ketua Gerakan Rakyat Dukung (Gardu) Prabowo wilayah Jawa Timur R. Hariadi Nugroho mengatakan, memilih kotak kosong karena Pilkada Kota Surabaya dianggap membunuh demokrasi.
Baca Juga: Menolak Penghapusan Pilkada Langsung
"Patut kami duga ada konspirasi jahat antara eksekutif dan legislatif. Tidak ada oposisi, sehingga fungsi pengawasan DPRD sebagai wakil rakyat akan mati," katanya, Sabtu (5/10/2024).
Menurut Hariadi, akan terus menyerukan kotak kosong hingga pemilihan berlangsung agar demokrasi berjalan dengan semestinya. "Tujuan utama kita adalah memperjuangan hak-hak demokrasi masa depan," ujarnya.
Hariadi Nugroho dkk, diskusi Pilkada Surabaya dan Pilgub Jatim 2024.
Baca Juga: Tanggapan KPU Kabupaten Pasuruan Soal Hibah Rp75 Miliar
Hariadi juga kecewa dengan partai pendukung Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mendukung Eri Cahyadi - Armuji (Erji). Padahal dalam Pemilihan Presiden 2024, jelas suara Prabowo Gibran di Surabaya menang telak kisaran 58%.
"Seharusnya Partai Gerindra yang tergabung dalam KIM punya calon kepala daerah sendiri di Surabaya bukan mengikuti partai lawan, yaitu PDI Perjuangan. Bagaimana kita bisa mengawal program kerja Prabowo kalau tidak bisa linier?" tambah Hariadi.
Baca Juga: Bawaslu Sebut Salah Tulis Hasil Suara di Mojo Pelanggaran Etik
Karena itu, 399 komponen pengurus Gardu Prabowo DPC Surabaya terus menyuarakan untuk mendukung ciptaan Erji yaitu surat suara kotak kosong. "Saya hanya berpesan kepada semua masyarakat Surabaya, jangan ada yang Golput, Hargailah hasil karya dan kerja keras Eri-Armuji dalam menciptakan calon tunggal, yaitu dengan cara coblos kotak kosong," imbuhnya.
Dengan menangnya kotak kosong nanti, maka Walikota Surabaya ditunjuk Pjs oleh Presiden melalui Mendagri. "Kami lebih percaya kepada Prabowo daripada Partai. Buatlah Pemilu ini dengan damai, senang dan riang. Masyarakat senang, penyelenggara Pemilu senang, partai politik juga senang, bagaimana caranya? Yaitu dengan memenangkan kotak kosong, maka akan ada Pemilu lagi di tahun 2025," pungkas Hariadi. (Hyu)
Editor : Redaksi