Misdiah 30 Tahun Jadi Pemulung Ingin Naik Haji

avatar potretkota.com
Misdiah saat mencari rongsokan di tempat sampah.
Misdiah saat mencari rongsokan di tempat sampah.

Potretkota.com - Ditengah hiruk pikuk perayaan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, terkadang kita lupa bahwa di balik setiap senyuman dan kasih sayang seorang ibu, tersimpan perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai.

Salah satu sosok ibu yang menginspirasi adalah Misdiah, seorang janda berusia 51 tahun yang tinggal di sebuah gubuk kecil di kawasan Jalan Semolowaru Selatan Gang 1 Surabaya.

Selama 30 tahun lebih, Misdiah menjadi tulang punggung keluarga dengan profesi sebagai pemulung. Setiap hari, ia mengayunkan langkahnya dari pukul 6 pagi hingga 3 sore untuk mengumpulkan rongsokan demi menghidupi anak dan cucunya.

"Saya sudah 30 tahun lebih jadi pemulung. Ini untuk menghidupi anak dan cucu saya. Walaupun penghasilannya sedikit, saya tetap semangat. Saya tidak mau merepotkan anak saya," ujar Misdiah, Sabtu (21/12/2024).

Meskipun penghasilannya hanya berkisar Rp15.000 - Rp20.000 per hari, semangat Misdiah tak pernah padam. Ia bahkan tetap bekerja sebagai pemulung meski kedua matanya mengalami gangguan akibat terkena cipratan cairan pembersih lantai.

Baca Juga: Jelang Imlek, Usaha Kue Keranjang di Surabaya Kebanjiran Pesanan

Misdiah terus menabung demi cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. "Saya ingin sekali naik haji. Doakan saya ya," harap Misdiah.

Santi anak Misdiah, mengaku sangat bangga memiliki sosok ibu seperti Misdiah. "Saya pernah menyuruh ibu untuk berhenti bekerja mencari rongsokan, tapi ibu tetap bersikeras. Ibu ingin membantu menambah penghasilan keluarga," ungkapnya.

Perempuan 27 tahun ini berharap doa ibunya bisa segera terkabul agar Misdiah bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci. "Semoga ibu bisa segera naik haji. Saya selalu mendoakan ibu," ujar Santi. (KF)

Baca Juga: Sri Mulyani dan Tarian Diplomasi di Atas Panggung Filantrokapitalisme

Berita Terbaru