Potretkota.com - Pasca puluhan aset Polri dan Gedung Grahadi di bakar massa akhir bulan Agustus 2025, aktivis 98 dari Surabaya angkat bicara. Yaitu Taufik Hidayat alias Monyong dan Andreas Pardede.
Keduanya menilai, kobaran api dan teriakan protes yang menggema di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir bukan hanya sekadar potret kemarahan sesaat, malainkan bentuk amarah kesenjangan sosial dan ketidakadilan selama ini.
Baca Juga: Hakim PN Surabaya Keluhkan Pendemo Bawa Sound Besar
Ketua Barisan Aktivis 98, Andreas Pardede menyampaikan, rakyak marah itu nyata. “Pertama, ada pemantik dari wakil rakyat dengan gaji dan tunjanggannya, kedua seorang ojek terlindas oleh aparat dan kemiskinan dimana-mana,” katanya, Rabu (3/9/2025).
Menurut Andreas Pardede, wajar kalau rakyat marah, karena para pejabat menambah fasilitas, sementara rakyat makin menderita. “Lihat saja yang terjadi akhir-akhir ini, ada penambahan pada kabinet yang seharusnya bisa dipangkas menjadi 50 persen. Katanya efisiensi anggaram tapi ada pemborosan, ini nyata,” jelasnya.
“Selama negara ini gagal mengelola kekayaan untuk rakyat, gelombang protes akan terus lahir dengan atau tanpa di organisasi,” tambahnya.
Baca Juga: Pendemo Minta KPK Bongkar Hibah Non Pokir Gubernur Khofifah
Senada, Taufik Hidayat melihat, akibat kemarahan rakyat yang nyata, perusakan, penjarahan hingga pembakaran terjadi dimana-mana. Ia justru mengecam tindakan represif aparat terhadap mahasiswa dan massa sipil. “Seluruh perlengkapan polisi dibeli dari pajak rakyat. Kalau ada provokator, tangkap orangnya. Jangan bubarkan seluruh aksi secara brutal,” tegasnya.
Taufik Hidayat juga menyinggung lemahnya deteksi dini aparat, merujuk insiden pembakaran aset Polri dan Gedung Grahadi. “Misal, hari pertama Polsek Tegalsari dan Grahadi dijaga ketat. Hari kedua malah dibiarkan. Tahu-tahu Polsek dan Gedung Grahadi yang terbakar. Api bisa segitu besar tapi tak ada upaya cepat memadamkan,” ujarnya.
“Alat pemadam ada, tapi kenapa tidak digunakan. Biasanya saja kalau ada unjukrasa ada yang bakar ban langsung disemprot, ini kenapa dibiarkan?” tambahnya heran.
Baca Juga: Demo Gerakan Pemuda Demokrasi di Kantor Demokrat Jatim Batal
Budayawan asal Lumajang ini juga mengingatkan, bahwa generasi saat ini bukan generasi diam. “Mereka live, viral, berjejaring. Kalau satu aksi sukses, bisa memantik gelombang berikutnya. Kita sedang bermain di air keruh, dan ini berbahaya,” pungkas Taufik dengan mengingatkan kepada aparat bahwa perintah undang-undang lebih tinggi daripada perintah atasan. (Hyu)
Editor : Redaksi