Sebagai pelaku seni Reog sekaligus pendiri Sanggar Reog Gembong Kyai Bulak, Tri Suryanto menyoroti pelaksanaan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) 2026 yang menurutnya wajib dievaluasi, terutama terkait aspek penjurian dan kepesertaan.
Potretkota.com - Pelaku seni Reog sekaligus Pendiri Sanggar Reog Gembong Kyai Bulak, Tri Suryanto menilai pelaksanaan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) wajib dievaluasi agar tetap menjaga semangat pembinaan dan sportivitas dalam pelestarian kesenian Reog.
Baca Juga: Budayawan Menyoal Posisi Pemprov Jatim dalam Festival Nasional Reog Ponorogo 2026
Menurut Tri, festival tahunan seharusnya menjadi sarana pembinaan bagi daerah-daerah yang memiliki kelompok Reog, bukan sekadar ajang kompetisi. Tujuannya agar setiap daerah dapat meningkatkan prestasi sekaligus melestarikan kesenian Reog yang kini berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
“Festival ini seharusnya menjadi wadah pembinaan. Kesenian Reog tidak hanya berkembang di Ponorogo, tetapi juga di berbagai daerah lain yang selama ini aktif melakukan pelestarian dan pengembangan,” ujarnya, Jumat (18/6/2026).
Tri yang pernah meraih Juara II Festival Nasional Reog Ponorogo XVII menilai terdapat sejumlah polemik pada penyelenggaraan tahun ini, khususnya terkait penetapan juara. Ia menilai penampilan kelompok Kyai Lodro yang keluar sebagai pemenang masih menyisakan sejumlah catatan apabila dibandingkan dengan peserta lain.
Menurutnya, dalam festival Reog terdapat empat unsur utama yang menjadi tolok ukur penilaian, yakni wiraga, wirasa, wirama, dan inovasi.
“Wiraga berkaitan dengan teknik dan gerak tari, wirasa menyangkut penghayatan sehingga pertunjukan mampu menyentuh perasaan penonton, wirama adalah keselarasan gerak dengan iringan musik, sedangkan inovasi merupakan pengembangan yang tetap berpegang pada pakem Reog,” jelasnya.
Ia menilai pada penampilan juara tahun ini, harmonisasi antara gerakan dan musik belum sepenuhnya tercapai sehingga unsur rasa atau penghayatan pertunjukan kurang muncul secara maksimal.
Baca Juga: Aroma Politik Festival Reog Ponorogo 2026, Kemenangan Kyai Lodra Dicurigai Sudah Skenario
“Menurut saya, antara gerakan dengan musik masih belum menyatu sehingga roso atau rasa pertunjukannya belum benar-benar terasa,” katanya.
Tri juga menyoroti penggunaan jumlah personel dalam pertunjukan yang dinilai terlalu banyak dibanding kapasitas panggung yang tersedia. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat gerak para penari tidak dapat terlihat secara maksimal oleh penonton maupun dewan juri.
“Dulu saat kami mengikuti festival, jumlah dadak merak biasanya hanya dua hingga empat unit. Jumlah penari dan warok juga disesuaikan dengan luas panggung agar setiap gerakan dapat terlihat jelas,” ungkapnya.
Selain persoalan teknis pertunjukan, Tri menyinggung munculnya persepsi publik terkait keterlibatan unsur nonkesenian dalam kompetisi. Ia berharap penyelenggara dapat menjaga independensi dan objektivitas pelaksanaan festival.
“Harapan saya sederhana, penyelenggara harus benar-benar menjunjung sportivitas. Jika mencari juri, pilihlah orang-orang yang kompeten dan independen sehingga hasil penilaian dapat diterima semua pihak,” tegasnya.
Tri mengaku pada masa-masa sebelumnya para peserta mempersiapkan diri jauh hari sebelum festival berlangsung. Mulai dari penyusunan konsep pertunjukan, koreografi, hingga penggarapan musik dilakukan secara matang demi menghasilkan penampilan terbaik.
“Dulu peserta benar-benar mempersiapkan diri. Setahun sebelumnya sudah mulai menyusun konsep, latihan, dan menggarap musik. Karena itu hasil kompetisi lebih mudah diterima karena prosesnya memang kompetitif dan sportif,” katanya.
Sebagai pelaku seni yang masih aktif membina kelompok Reog, Tri berharap Festival Nasional Reog Ponorogo ke depan tetap menjadi ajang yang mengedepankan kualitas pertunjukan, pelestarian budaya, dan keadilan bagi seluruh peserta. (ASB)
Editor : Redaksi