Bukan Cuma untuk Lelaki

Intan Ayu Paramitasari, Pemain Dhadak Merak Reog Ponorogo

avatar Achmad Syaiful Bahri

Potretkota.com – Sosok perempuan yang memainkan Dhadak Merak dalam pertunjukan Reog Ponorogo masih terbilang langka. Namun anggapan bahwa pembarong hanya bisa dimainkan laki-laki dipatahkan oleh Intan Ayu Paramitasari (32), perempuan asli Ponorogo yang telah menekuni seni Reog sejak 2014.

Bagi masyarakat Ponorogo, Dhadak Merak merupakan ikon utama dalam pertunjukan Reog. Topeng kepala harimau berhias bulu merak dengan bobot puluhan kilogram itu umumnya dimainkan laki-laki karena membutuhkan kekuatan gigi, rahang, dan otot leher yang prima.

Baca Juga: Delegasi Seniman Tiongkok Kunjungi Bang Wetan

Namun, Intan Ayu Paramitasari membuktikan bahwa perempuan juga mampu memainkan Dhadak Merak melalui latihan fisik yang disiplin. Perempuan berusia 32 tahun itu mengaku awalnya hanya menjadi penari Jathil. Saat bergabung dengan kelompok Reog di Madiun, rasa penasaran mendorongnya mencoba menjadi pembarong.

"Awalnya saya Jathil. Lama-lama penasaran ingin mencoba Dhadak Merak. Memang awalnya berat, bahkan pernah pingsan karena belum terbiasa. Tapi setelah latihan terus, akhirnya bisa," ujar Intan kepada Potret Kota beberapa waktu lalu.

Perjalanan Intan tidak mudah. Ia memulai latihan menggunakan Dhadak Merak berukuran kecil sebelum beralih ke ukuran dewasa. Latihan dilakukan setiap hari untuk membentuk kekuatan otot leher dan rahang. Kecintaannya terhadap seni tradisional juga tumbuh sejak kecil. Sang ibu merupakan penari tari tradisional sehingga Intan telah mengenal dunia seni sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Suami Intan, Nasib Sudarsono alias Basir, yang juga pemain Dhadak Merak, mengatakan kemampuan memainkan Reog tidak bergantung pada jenis kelamin. Menurutnya, siapa pun dapat menjadi pembarong asalkan memiliki kemauan berlatih.

Baca Juga: Bantah Tudingan Kongkalikong, Disbudpar Jatim Klaim Kyai Lodra Dipilih karena Regenerasi Reog

"Tidak semua harus laki-laki. Perempuan juga bisa. Yang penting latihan fisik. Tidak ada unsur mistis atau magic, semuanya murni latihan kekuatan gigi, rahang, dan otot leher," tegas Basir.

Ia menjelaskan teknik utama memainkan Dhadak Merak adalah menggigit bagian penyangga menggunakan gigi geraham agar beban dapat ditopang dengan aman. Selain kekuatan rahang, pemain juga wajib memiliki kondisi fisik yang prima.

Basir mengaku telah mengenal Reog sejak sekolah dasar. Bersama istrinya, ia bahkan memiliki paguyuban Reog bernama Singo Arjuna Putra sebelum akhirnya merantau ke Surabaya dan bergabung dengan Paguyuban Reog Purbaya. Keduanya turut mengantarkan tim Reog Purbaya meraih prestasi pada Festival Reog Nasional.

Baca Juga: Juri Festival Reog Ponorogo Akui ada Lobi, Sukatno: Saya Tolak!

Bagi pasangan seniman ini, penghargaan bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah menjaga agar Reog tetap hidup di tengah generasi muda. Apalagi setelah Reog Ponorogo diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, mereka berharap semakin banyak anak muda yang mau belajar dan melestarikan kesenian khas Ponorogo tersebut.

"Kami berharap generasi muda jangan menyerah belajar Reog. Ini budaya asli Indonesia yang harus terus dilestarikan," pungkas Basir. (ASB)

Berita Terbaru