Balai Gakkum Kehutanan Jabalnusra Ungkap Dua  Penyebab Kebakaran Gunung Arjuno

avatar potretkota.com
Peta.
Peta.

Potretkota.com - Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra) mengungkap dua dugaan penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno. Kedua dugaan tersebut adalah aktivitas perburuan satwa liar dan penambangan belerang di Gunung Welirang.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Gakkum Kehutanan Jabalnusra, Aswin Bangun, saat rapat koordinasi bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Hutan Cempaka, Kabupaten Pasuruan, Selasa (19/10/2026).

Baca Juga: Hujan Guyur Sejumlah Wilayah di Lereng Arjuno

Aswin mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan dan investigasi di lapangan, kedua aktivitas tersebut diduga menjadi faktor pemicu kebakaran yang terjadi sejak 13 Oktober 2026.

Hingga saat ini, kebakaran dilaporkan masih berlangsung dengan 92 titik panas (hotspot) di kawasan Kedua dan Kokopan. Api juga dilaporkan mengarah ke wilayah Ketapanrame, Kabupaten Mojokerto.

“Dari hasil pengamatan dan investigasi di Gunung Arjuno, ada dua dugaan penyebab kebakaran, yakni perburuan hewan liar dan aktivitas penambangan belerang di Gunung Welirang,” kata Aswin.

Menurutnya, dugaan tersebut perlu menjadi perhatian selain kemungkinan penyebab lain, seperti sisa api dari kompor pendaki yang tidak dipadamkan dengan sempurna serta puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Kawasan Gunung Arjuno dan Welirang diketahui menjadi habitat berbagai jenis satwa liar, termasuk monyet, celeng, dan burung endemik. Selain itu, Gunung Welirang juga menjadi lokasi aktivitas penambangan belerang.

Aswin juga menyoroti keberadaan belerang yang ditinggalkan oleh penambang liar di kawasan Gunung Welirang.

Baca Juga: Gubernur Jatim dan Bupati Pasuruan Gelar Rakor Karhutla Gunung Arjuno-Welirang

“Saat ini, di ketinggian sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Gunung Welirang, terdapat sekitar 20 ton belerang yang ditinggalkan penambang liar. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan ledakan apabila terkena air,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Perencanaan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Asep Kusdinar, mengatakan pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang bekerja sebagai penambang belerang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menawarkan alternatif mata pencaharian.

“Untuk masyarakat penambang belerang, sudah kami bina dengan memberikan alternatif pekerjaan sebagai pemandu wisata,” ujar Asep.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Asep juga memaparkan kesiapan personel Tahura Raden Soerjo yang bertugas di empat wilayah, yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Mojokerto. Personel tersebut turut dilibatkan dalam upaya penanganan karhutla di kawasan Gunung Arjuno.

Baca Juga: FPRB dan Baznas Sediakan Ribuan Porsi Makanan Siap Saji untuk Relawan Karhutla Gunung Arjuno

Menurut Asep, titik api di kawasan atas berada di wilayah Kabupaten Pasuruan, sedangkan titik api di kawasan bawah berada di wilayah Singosari, Kabupaten Malang.

Untuk mendukung penanganan kebakaran, pihaknya telah menyiapkan empat posko, yakni Posko 1 di Hutan Cempaka, Posko 2 di rumah warga di Jatiarjo, Posko 3 di Bukit Lancing, Lawang, Kabupaten Malang, serta Posko 4 di Sumber Brantas, Kota Batu.

Asep menjelaskan, upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala, terutama medan yang sulit dijangkau, angin kencang, dan keterbatasan jumlah personel. “Malam ini, ada 12 orang yang naik ke kawasan atas melalui wilayah Kokopan,” pungkasnya.

Sebelum kebakaran Gunung Arjuno terjadi, beberapa hari sebelumnya diketahui terdapat kegiatan pembaretan di Gunung Welirang. Kegiatan tersebut dilaporkan berangkat dari Pos 1 pendakian Gunung Arjuno di Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. (dyt)

Berita Terbaru