Potretkota.com - Disebabkan kemarau panjang, ratusan hektar lahan pertanian di Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep Surabaya, mengalami kekeringan. Akibatnya, para petani kangkung, labu air, kacang koro, tomat dan cabai besar tak dapat melakukan aktivitas bercocok tanam.
Para petani sudah membuat solusi, yakni menyediakan pasokan air dari sungai yang diangkut menggunakan dump truk, namun tetap tak sanggup menyirami lahan yang terlalu luas. “Bagaimana lagi,” keluh Ketua Kelompok Tani Sendang Biru, Karnoto.
Baca Juga: Sisa Kas Cuma Rp75 Juta, Perumda Panglungan Nekat Pinjam Dagulir Bank UMKM Jatim Rp1,5 Miliar
Menurut Karnoto, kelompok tani yang dipimpinnya beranggotakan 85 orang, dengan luas lahan pertanian yang jika digabungkan menjadi 60 hektar. “Itu pun belum digabung dengan tiga kelompok tani lainnya di wilayah Made yang mencapai 197 hektar, sehingga jika ditotal, lahan pertanian yang ada di wilayah Made ada sekitar 257 hektar,” terangnya.
Baca Juga: Kapolres Pimpin Doa Aksi Unjuk Rasa Petani Desa Sumberanyar
Karnoto juga mengaku, para petani kelompoknya yang menggarap cabai besar mengalami kerugian besar. Alasannya, saat musim hujan, ia mampu menanam sekitar 2000 tomat atau lombok dengan omset puluhan juta rupiah.
Baca Juga: Utang Rp1,5 Miliar Untuk Tanam Porang, Cuma Panen Rp90 Jutaan
Saat ini, para petani di wilayah Made Surabaa sehari-harinya hanya mengolah lahannya dengan teknik blikrah, yaitu mengolah lahan dengan cara mencongkeli tanah agar saat musim hujan tiba tanah-tanah tersebut sudah siap ditanami tomat atau lombok. (Jar)
Editor : Redaksi