Potretkota.com - Angka kematian di Surabaya sepanjang memasuki masa Pandemi ternyata tidak begitu tinggi persentasenya. Jumlah kematian bila dibandingkan dengan sebelum Pandemi hanya naik sedikit. Hal itu, menjadi pertanyaan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, A. H. Thony.
Ada yang janggal dari angka kematian antara sebelum pandemi dan pandemi. Menurutnya, kejanggalan itu dari jumlah mortalitas sepanjang tahun 2019, yaitu sejak Januari hingga 31 Desember 2019, besar mortalitasnya 10353 jiwa. Sedangkan, angka mortalitas di tahun 2020, mulai Januari hingga memasuki bulan pandemi, yaitu Maret hingga Mei 2020. Jumlah mortalitasnya 4566 jiwa.
Baca juga: Pemerintah Putusan Masa Pandemi Menjadi Endemi
Thony menyampaikan, logikanya kalau ini merupakan pandemi harusnya jumlah kematian tiga kali lipat dari totoal yang diterimanya. Apalagi, daftar mortalitas yang diterimanya merupakan akumulasi dari orang yang meninggal sebab coronavirus dan yang mati karena sebab yang lain.
Untuk itu, menurutnya sebagaimana yang dinyatakan bahwa Surabaya ini merupakan zona merah bahkan dikatakan Gubenur sebagai zona hitam pekat, secara logika kematiannya bergelimpangan. Namun, ini tidak begitu secara angka yang didapatkannya.
"Kalau ini pandemi, seharusnya angka kematian di Surabaya yang dinyatakan sebagai daerah zona merah, secara logika harusnya sangat tinggi angka mortalitasnya, saya kira ada perubahan jumlah penduduk yang sangat signifikan, karena disebabkan corona ini, karena ini pandemi," kata A. Hermas Thony pada media, Kamis (2/7/2020) kemarin.
Baca juga: PTM 100 Persen di Surabaya Tunggu PPKM Level 1
Ketua DPC Gerindra Surabaya ini, tidak menampik adanya virus corona. Ia mengatakan, dirinya sangat percaya dengan virus corona ini. Namun, yang menjadi pikirannya di Surabaya yang dinyatakan sebagai daerah dalam katagori zona merah, kenapa persentasi kematian tidak naik signifikan. Berarti, lanjutnya bisa jadi yang disampaikan Wali Kota, Tri Rismaharini ini benar selama ini telah melakukan penanganan Covid-19 sangat baik.
Sehingga, mampu melakukan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 di Surabaya. Karena itu, dirinya mengaku heran selama ini ada kabar bahwa persebaran Covid-19 ini sangat dahsyat, akan tetapi tidak sebanding dengan angka kematian yang ditemukan.
"Bukan saya tidak percaya, ini saya sangat percaya kalau ada virus, akan tetapi perkembangbiakan virus ini mungkin melemah sampai surabaya, sehingga tidak begitu mematikan," jelasnya.
Baca juga: Terdakwa BOP Bojonegoro Biayai Gratis 170 Duafa
Lebih lanjut, Thony menyimpulkan, sebab presentase angka kematian di masa pandemi di Surabaya sangat rendah. Menurutnya, ada dua kemungkinan; pertama, ada kemungkinan persebaran Corona melemah, sehingga di wilayah yang dinyatakan zona merah tingkat kematiannya tidak seberapa, karena mudah disembuhkan; kedua, bisa jadi Wali Kota bekerja dengan sangat baik sehingga mampu menimalisir korban jiwa akibat dari pandemi ini.
Untuk itu, apabila prediksi yang kedua itu benar. Maka selama ini apa yang disampaikan Wali Kota Surabaya, Risma telah bekerja sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, perlu diapresiasi. "ada dua kemungkinan secara logika, pertama virus Corona ini memgalami pelemahan sehingga meski persebarannya sangat luas, namun sudah tidak sampai mematikan, dan yang kedua, karena kerja Wali Kota Surabaya sangat baik dalam menangani Covid-19 sehingga mampu menimalisir angka kematian," prediksi A. Hermas Thony, mengaku dapat data pemakaman dari hasil investigasinya. (Qin)
Editor : Redaksi