Potretkota.com - Banyak job yang didapat perusahaan transportasi limbah PT Aryaguna Sejahtera Abadi (ASA) yang berada di Desa Jeruk Legi RW 2 Balongbendo Sidoarjo, informasinya tak luput dari peran oknum kepolisian.
Yakni, Irjen Pol (Purn) inisial EAP dan oknum berpangkat AKPB berinisial NT. Kedua pejabat berseragam cokelat ini diduga kuat sebagai pendana sekaligus backup penyelewengan usaha limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Baca juga: ARSAS Soroti Rasa Keadilan dalam Seleksi PPDB Surabaya 2026
Saat dikonfirmasi, Bos PT ASA Totok Jahuri langsung membantah. Menurut bapak satu anak ini, sumber Potretkota.com tidak mendasar. "Infonya dari siapa? Itu engga mendasar," katanya, Senin (24/8/2020).
Penghobi motor trail ini juga mengaku, sebagai pendana angkutan transportasi PT ASA yaitu ormas wilayah Gresik bentukan mantan Presiden Indonesia periode 2004-2014. "Saya ini rakyat kecil. Uang juga engga ada, kondisinya saja begini. Banyaknya armada itu hanya titipan dari ormas yang ingin gabung dengan saya. Engga tau itu (uang) join sari siapa saja. Saya yang urus perijinannya," kilah Totok Jahuri.
BERITA TERKAIT: Menyoal Angkutan Limbah Aryaguna Sejahtera Abadi
Baca juga: Munculnya Gerakan Masyarakat Sipil sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Rezim Prabowo–Gibran
Untuk diketahui, PT ASA hanya memiliki izin usaha pengangkut limbah B3. Perusahaan ini, tidak diperbolehkan melakukan pembuangan secara sembarang, penyimpanan, pengumpulan ataupun penjualan terhadap limbah B3.
Suami dari pengusaha butik online Dewi Sekar Arianti selama ini mendapat order dari pabrik besar untuk dipindah kepada pihak ketiga yang memiliki izin penimbunan serta pengolahan limbah B3.
Karena diduga banyak mengandalkan kenalan dari Polda Jatim beserta jajarannya Polres dan Polsek, tak heran pembuangan limbah yang dilakukan PT ASA ngawur.
Baca juga: Menolak Lupa: Uang Korupsi Hasil Kejahatan Putu Harry Sasmita Mengalir ke Diah Irawati
Beragam limbah yang didapat dari pabrik kemudian oleh bos PT ASA dipilah lagi untuk dikirim ditempat berbeda-beda, diantaranya di gudang milik Purwanto desa Temu Sidoarjo, di halaman belakang rumah Yuni desa Bendotretek Sidoarjo, di perusahaan pengolahan limbah daerah Tropodo Krian Sidoarjo, Amin di Pasuruan dan Bayan di Mojokerto.
"Dari yang disebutkan, cuma satu saya yang tau," kilah pria kelahiran Agustus 1976 ini. (Hyu)
Editor : Redaksi