Potretkota.com - Banyaknya warga yang mengeluh kenaikan tarif gas rumah tangga yang disediakan Perusahaan Gas Negara (PGN). Maka dari iti Wakil Ketua DPRD Surabaya Laila Mufidah mendesak harus ada evaluasi menyeluruh terkait kenaikan tarif gas. Dalam situasi banyak warga terempas pandemi, makin dibebani kenaiakn tarif gas.
"Kasihan pelaku ekonomi kerakyatan yang hendak bangkit dari pandemi. Apalagi kenaikan tari itu tidak disosialisiakan secara masif. Harus ditinjau ulang atau keringanan," kata Laila yang juga Ketua DPC Perempuan Bangsa Surabaya.
Baca juga: Aroma Politik Festival Reog Ponorogo 2026, Kemenangan Kyai Lodra Dicurigai Sudah Skenario
BERITA TERKAIT: Warga Mengeluh Harga Gas Rumah Naik Terus Menerus
Sementara, Ali Mustofa, warga Rungkut Lor jaringan gas yang disediakan PGN menyelusup hingga ke kampung Rungkut saat ini menjadi beban warga. "Kalau berat begini saya dan warga yang lain akan beralih ke gas elpiji saja. Dari sebelumnya saya Rp 50.000 kini bisa Rp 180.000," ungkapnya.
Baca juga: Tak Bisa Bayar Tukang, Pegawai Kejati Jatim Dilaporkan Polisi
Dia memprediksi dengan hanya masak telur dan sayur, sebulan paling banyak menghabiskan tiga tabung elpiji 3 kg. Sudah lebih sepuluh tahun, warga nyaman dengan layanan jaringan gas yang menerobos kampung. Banyak rumah-rumah di Rungkut sudah teraliri jaringan gas milik PGN. Mereka tingga pejet sudah bisa memasak.
Namun kemudahan itu kini harus berbiaya tinggi. Sebab sejak tiga bulan terakhir berlaku kenaikan tarif gas. Keluarga Ali Mustofa sendiri hanya menggunakan gas untuk masak. Tidak lebih dari itu.
Baca juga: Anggota Respati Polrestabes Surabaya Saat Patroli Diduga Aniaya Anak SMP di Jalan
Dia juga menuturkan bahwa sejumlah warga sempat protes ke PGN setelah ramai di grup warga. Banyak yang jumlah pemakaian atau kubikasi sama tapi tarif berbeda. "Setelah diprotes ada penyesuaian," kata Ali.
Werga saat ini mendesak agar ada petugas pencatat yang rutin mengecek pemakaian. Agar warga puas dan nyaman. (Mar)
Editor : Redaksi