Potretkota.com – Hari Raya Idul Adha 1443 H yang sudah tinggal menghitung hari saja di tahun 2022 ini, kembali melahirkan keluh kesah bagi warga khususnya pedagang kebutuhan pokok. Kali ini pula, dalam pantauan Potretkota.com, harga cabai rawit merah di pasar tradisional Johar Baru, Jakarta Pusat melonjak hingga tembus di angka 130 ribu rupiah per kilogramnya.
Tingginya harga cabai yang setara dengan harga daging sapi itu membuat para pedagang mengeluh lantaran omzet mereka anjlok hingga mencapai 70 persen. Kendati terlihat normal, namun sejumlah harga kebutuhan pokok termasuk cabai terus melonjak naik. Cabai rawit merah yang normalnya di jual dengan harga Rp50 ribu naik 100 persen lebih hingga menyentuh angka Rp130 ribu perkilogramnya.
Baca juga: Mendag Budi Santoso Tinjau Pembuatan Batik Ecoprint
Kenaikan tersebut disusul cabai merah keriting yang dijual Rp100 ribu dari yang sebelumnya hanya Rp45 ribu perkilogramnya. Cabai rawit hijau yang biasa dijual Rp40 ribu naik menjadi Rp100 ribu per kilogram. Tingginya harga cabai membuat para pedagang mengeluh lantaran konsumen yang berbelanja menjadi berkurang. Salah satu pedagang cabai, Danil, mengaku omzetnya anjlok hingga mencapai 70 persen.
“Udah hampir sebulan lebih bang, semua bang, ini paling tinggi, rawit sama kriting, rawit sekarang Rp130.000, kriting Rp100.000, sekarang Rp130.000 sebelumnya Rp50.000-60.000, keriting merah Rp45.000-60.000 sekarang Rp100.000, rawit ijo kosong pasarannya Rp100.000, sebelumnya dia Rp40.000-50.000, bawang juga naik nih bang Rp65.000,” kata Daniel, Jumat, ( 24/06/2022).
“Waduh kacau bang omzet turun kadang 57, 70 persen positif konsumen menjerit biasa beli sekilo, seperapat goceng, ya puyeng juga si bang abis gimana lagi semua sama, harapannya kalau bisa turun dikit biar pedagang enak, kalau turun begitu kasian petani, pupuk mahal," sambungnya.
Selain dikeluhkan pedagang, Ojat, seorang konsumen juga mengeluhkan kenaikan harga cabai yang masih tinggi dipasaran. "Kalau bisa turun, kasian ibu rumah tangga namanya gaji ga seberapa adanya kenaikan harga menjadi terbebani pak, kadang tiap hari, ga tentu kadang 3-2 hari, saya konsumsi, cabe giling dan utuh," ujarnya.
Baca juga: Jelang Nataru, Mendag Budi Santoso Sidak Pasar Tradisional
Sebelumnya Menteri Perdagangan Zukifli Hasan berseloroh kenaikan harga cabai merupakan bonus tahunan bagi para petani. Ia menilai, kenaikan harga bawang dan cabai memang musiman. Pernyataan tersebut dilontarkannya seusai bertemua Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di kantor Kementerian Pertanian, Senin, (20/06/2022).
“Kalau bawang merah, cabai-cabai naik itu kan memang musiman. Waktu itu saya tanya orang pasar, 'Biasa pak kalau musim begini harganya naik, biarlah pak untuk petani ada bonus tahunan,' kira-kira begitu kata pedagang,” ungkap Zulhas di YouTube Kementerian Pertanian, Selasa, (21/06/2022).
Sementara, pernyataan itu pun mendapat respon dari Wasekjen IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia) Bidang Pembinaan Pasar dan Pendidikan Pedagang Pasar, Ahmad Choirul Furqon. Ia menyayangkan selorohan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang menteri yang justeru hanya akan menimbulkan dampak buruk bagi Zulhas sendiri dan kementeriannya.
Baca juga: Broker Surabaya Ungkap ada Dugaan Bawang Bombai Selundupan dari Malaysia
“Jangan sampai masalah yang dibuat selorohan ini akan menyebabkan dampak buruk berupa distrust public terhadap Kemendag secara lembaga atau Mendag, Zulhas secara personal. Masalah yang terjadi di lapangan tidak semudah atau sesimpel yang dijalaskan oleh Mendag Zulhas. Yang terjadi di lapangan jauh lebih kompleks dan sebenarnya harus segera diberikan penanganan sangat serius,” kata Furqon.
Furqon mengungkapkan, sebenarnya harga dari para petani normal dan tidak ada kenaikan signifikan. Ia menegaskan, pihaknya telah banyak melakukan diskusi beberapa petani. Mereka mengatakan harga dari petani normal, bahkan tidak ada kenaikan yang signifikan, hal ini juga telah diafirmasi Menteri Pertanian beberapa hari yang lalu.
“Jadi apabila terjadi kenaikan harga yang tidak rasional, berarti ada masalah besar di jalur tengah, yaitu rantai distribusi pangan. Harga yang tidak normal di pasar saat ini tidak selayaknya ditanggapi dengan selorohan bercanda. Apabila permasalahan ini tidak segera diatasi di tingkat hulu, maka akan memberikan domino efek ke sektor usaha di hilir,” tukas Furqon. (Robby)
Editor : Redaksi