Potretkota.com - Tidak lama grand opening Kota Lama dibuka oleh Pemerintah Kota Surabaya, Juni 2024 lalu. Namun, bukannya mendapat pujian penuh, konsep kolonial yang dikenalkan menuai sorotan dari seniman, baik itu Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS).
Ketua DKJT, Taufiq Hidayat menganggap kehadiran Kota Lama di Surabaya tidak mencerminkan kembali spirit juang pahlawan. “Seharusnya Kota Lama membangkitkan semangat pemuda atau arek-arek Suroboyo,” ujarnya kepada Potretkota.com.
Baca juga: Kopling Sawah, Bisnis Sederhana di Pasuruan Untung Jutaan Rupiah
Menurutnya, Jembatan Merah merupakan simbol kemerdekaan dimana para pejuang meninggal dunia. “Lha ini kanan kirinya, seakan-akan kita menyenangi produk dari kolonialisme,” kata Taufiq Hidayat, Pemerintah Kota Surabaya kurang tepat merekontruksi Kota Lama.
Taufik Hidayat menyayangkan konsep di Kota Lama aspek sejarah tidak dimunculkan. “Disini saya tidak tergairahkan. Begitu beratnya para pejuang pada waktu itu menghancurkan kolonialisme. Ini sebaliknya, malah seakan-akan bangga akan produk kolonialisme,” jelasnya.
“Disana (Kota Lama) dipertontonkan bangunan kuno, seolah Belanda cukup banyak memberikan kontribusi terhadap perubahan. Ini jelas pembodohan,” tegas Taufik Hidayat, berharap kedepan bisa mengenalkan tokoh-tokoh pejuang seperti Ruslan Abdul Gani, Cokroaminoto, Bung Tomo dan sebagainya.
Baca juga: Bisnis Vila Tretes Jelang Malam Tahun Baru 2026 Meredup
Bagi Taufik Hidayat, konsep Kota Lama terkesan copy paste yang ada di Jakarta, Semarang ataupun Medan. “Saya pikir bahwa Pemerintah Kota Surabaya gagal membuat Kota Lama,” urainya, karena dulu pejuang sangat mengkritisi dan melawan kolonialisme.
Senada, Ketua DKS Chrisman Hadi mengungkapkan, Kola Lama di Surabaya hanya simbol penjajah atau melestarikan kolonisasi. “Kita ini punya pengalaman pahit sebagai Negara yang pernah terjajah. Kalau kemudian programnya hanya untuk wisata, harusnya ada perspektif pemajuan kebudayaan,” urainya.
Baca juga: Hakim Vonis Seniman Kapal Majapahit 3 Tahun 6 Bulan Penjara
Kalau diyakini hanya untuk mendatangkan devisa, disebut Chrisman Hadi paling tidak mengutamakan sarana prasarana, pekerja yang melayani di Kota Lama ataupun suguhan kuliner khas dari Surabaya.
“Misalnya tata busana seperti Cak dan Ning, kendaraanya dokar, makanan rujak cingur, lontong balap, dan sebagainya. Kalau ada turis turun dari kapal pesiar ke Kota Lama, terus disuguhi makanan stik, apa bedanya, kan itu sama saja bohong,” pungkas Chrisman Hadi. (ASB)
Editor : Redaksi