Penamaan RSUD Eka Candrarini Terinspirasi Filosofi Jawa, Begini Kata Budayawan Surabaya

potretkota.com
RSUD Eka Candrarini

Potretkota.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, sedang membangun rumah sakit di kawasan perumahan Yayasan Kas Pembangunan (YKP) Kecamatan Rungkut. Proyek bernilai ratusan miliar ini, rencana diberi nama RSUD Eka Candrarini. Rumah sakit ini bentuknya umum namun lebih spesial untuk ibu dan anak.

Penamaan nama, sepertinya tanpa berdiskusi dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya. Karena Ketua DPRD Adi Sutarwijono tidak mengetahuinya. "Pemkot yang bisa menjelaskan," singkatnya, Rabu (23/10/2024).

Baca juga: Pembayaran 16 Ribu Pasien SKTM RSUD dr Ishak Disunat

Sementara, Pjs Walikota Surabaya Restu Novi Widiani MM saat dikonfirmasi mengaku, penamaan RSUD Eka Candrarini terinspirasi dari filosofi jawa dari kata “Eka” yaitu yang pertama. "Artinya RSUD Eka Candrarini merupakan yang pertama dalam memberikan layanan prima," akunya.

Lalu, disebut Restu Novi Widiani, kata “Candrarini” mewakili karya sastra jawa “Serat Candrarini” yang melambangkan keteladanan kepada para wanita dalam menjalani kehidupan yang diibaratkan para istri Arjuna.

"Ini memaknai 9 ajaran bahwa wanita dapat merawat diri, bertingkah laku baik, patuh pada suami, bertutur kata baik, tidak sombong, berwibawa, pengertian, gemar membaca, dan berbakti pada mertua. Karena itu, diharapkan agar nasihat ini dapat bermanfaat dan menjadi teladan bagi para wanita khususnya, dan masyarakat luas umumnya," jelasnya.

"Itu semua menyiratkan pesan bahwa RSUD Eka Candrarini menjadi rumah sakit pemerintah dengan unggulan pelayanan ibu dan anak yang pertama di Surabaya dan sekitarnya yang akan memberikan layanan prima dan teladan yang baik," tambahnya, pemilihan nama RSUD Eka Candrarini ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.

Menanggapi hal ini, Budayawan dari Surabaya Taufik Hidayat S.Pd berbeda pendapat dengan PJ Walikota Surabaya Restu Novi Widiani. Menurutnya, karena rumah sakit berada di kota pahlawan, selayaknya penggunaan nama itu menggunakan nama-nama yang pernah mengharumkan Surabaya.

Baca juga: Cegah Superflu, Warga Surabaya Vaksinasi Sebelum ke Luar Negeri 

"Di Surabaya banyak nama tokoh perempuan terkenal, ada Bu Dar Mortir, Mbah Khorimah atau Nyai Praban," tambahnya.

Tak hanya itu, Taufik Hidayat mengungkap ada tokoh lain di Surabaya yang terkenal. "Misal nama Ida Ayu Nyoman Rai orang tua Presiden Soekarno, Siti Oetari anak H.O.S. Tjokroaminoto, itu kan bisa menjadi pilihan nama rumah sakit baru di Surabaya," ungkapnya.

Alumni Unesa tahun 2000 menyebut, penamaan RSUD Eka Candrarini alangkah baiknya dibicarakan dengan anggota DPRD. "Pemkot Surabaya jangan membuat keputusan sepihak, pembangunan ini kan pakai APBD, harusnya nama baru ini diskusikan dulu dengan legislatif," bebernya.

Baca juga: Hakim Vonis Seniman Kapal Majapahit 3 Tahun 6 Bulan Penjara

Tidak adanya diskusi, Taufik Hidayat menilai sudah ada pembunuhan fungsi DPRD sebagai lembaga legislatif. "Kalau semua Partai sudah dibeli oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, ya begini jadinya, tidak ada kontrol, tidak ada kritik, tidak perlawanan dan sebagainya," imbuhnya.

Senada, Advokat PERADI Surabaya sekaligus Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi SH mempertanyakan penamaan RSUD Eka Candrarini. Kalau penamaan sudah sudah melewati kajian mendalam interdisipliner dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis untuk membangun nation and character building, hal itu baik untuk generasi yang akan datang.

"Tapi kalau penamaan itu sekedar asal tunjuk oleh pihak yang kebetulan sedang berkuasa tapi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, maka bisa jadi penamaan itu malah akan jadi bahan ledekan. Misal, nama yang dipasang itu dibelakang hari ternyata terbukti seorang koruptor. Itu kan malah jadi bahan ledekan sejarah," pungkasnya. (Hyu)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru