Pastikan Identifikasi Korban Al Khoziny Profesional

Kapolda dan Gubernur Tinjau Post Mortem di RS Bhayangkara

potretkota.com
Irjen Pol Nanang Avianto dan Khofifah Indar Parawansa.

Potretkota.com - Tim penyelamat terus melakukan pencarian korban robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny di kawasan Buduran, Sidoarjo. Hingga Jumat (3/9/2025) sore, total 5 jenazah telah dibawa ke Posko Post Mortem di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara untuk proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim.

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, yang meninjau langsung Posko Post Mortem di RS Bhayangkara, menegaskan bahwa setelah golden time atau masa 72 jam pencarian, pihaknya telah menyiapkan rumah sakit Bhayangkara sebagai pusat identifikasi korban.

"Kami telah menyiapkan Rumah Sakit Bhayangkara untuk dipusatkan sebagai tempat identifikasi korban robohnya pesantren ini," ujar Irjen Pol Nanang Avianto, Jumat, (3/10/2025).

Irjen Pol Nanang Avianto juga menambahkan, bahwa pihak keluarga korban telah mengumpulkan data ante mortem dan post mortem sebagai data pelengkap bagi Tim DVI Polda Jatim dalam melakukan proses identifikasi.

Data terakhir menurut DVI Polda Jatim, total 58 korban masih tertimbun reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny. Hingga Jumat siang, lima jenazah telah ditemukan dan sedang dalam proses identifikasi di Posko Post Mortem Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.

Sementara, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa melakukan tinjauan ke Posko Post Mortem di Rumah Sakit Bhayangkara untuk memastikan proses identifikasi jenazah korban robohnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, berjalan optimal.

Dalam kunjungannya, Khofifah menyampaikan apresiasi atas kesigapan tim ante mortem yang telah standby di pesantren sejak hari pertama kejadian. "Kita terima kasih loh itu dadi ante mortem itu, dari hari pertama itu sudah standby di pesantren," ujarnya.

Gubernur juga menjelaskan bahwa sampel DNA dari keluarga wali santri telah diambil untuk mempercepat proses identifikasi. "Yang kemarin itu sampel DNA juga sudah semua diambil dari keluarga wali santri. Artinya semua insya Allah well prepared," imbuhnya.

Menurut Khofifah menuturkan, tantangan utama saat ini adalah proses rekonsiliasi antara data post mortem (PM) dan ante mortem (AM). Ia berharap keluarga korban dapat memahami bahwa seluruh proses dilakukan secara profesional. "Mudah-mudahan keluarga juga bisa memahami, kerja-kerja profesional sudah dilakukan," katanya.

Dalam kesempatan ini, Gubernur juga menyampaikan bahwa rekonsiliasi data akan dilakukan pada malam hari ini, dengan harapan keluarga dapat menerima hasil identifikasi dengan yakin.

Baca juga: Arsitek dan Ahli Konstruksi Bersatu Wakafkan Profesi untuk Pesantren

"Bagaimana semua bisa meyakinkan bahwa nanti ketika direkonsiliasi, pada maghrib ini akan dilakukan rekonsiliasi, dan ketika sudah ketemu teridentifikasi dari yang lima ini, mereka bisa memastikan, meyakini bahwa ini adalah putra atau putri atau ponaan mereka," jelasnya.

Selain proses identifikasi, Khofifah juga menyoroti pentingnya pendampingan psikososial bagi keluarga korban. Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dari Dinas Sosial terus melakukan pendampingan di lokasi kejadian. "Iya paham, tapi tim LDP sudah standby di sana terus, jadi LDP itu Layanan Dukungan Psikososial dari Dinas Sosial, itu terus juga melakukan pendampingan," ujarnya.

Khofifah juga memahami keinginan warga untuk membantu proses evakuasi, namun ia menekankan bahwa seluruh tindakan harus dilakukan secara hati-hati dan oleh tenaga profesional.

Baca juga: Identifikasi Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Selesai

"Saya mendengar bahwa mereka ini tadi ingin ikut membantu evakuasi, tapi bahwa kemarin pun kita menjelaskan bahwa semua ini dilakukan penuh kehati-hatian dan oleh orang-orang yang sangat profesional," tuturnya.

"Jadi katakan kemarin setengah sebelas ya crane itu mulai beroperasi, dan kemudian dohur kita break, setelah itu crane beroperasi lagi, karena kemudian dimungkinkan untuk menambah crane, maka Pemprov menambah crane. Tengah malam kemudian ini untuk percepatan dibutuhkan breaker, Pemprov juga menambahkan breaker," imbuhnya.

Meski demikian, Khofifah menegaskan bahwa kehati-hatian tetap menjadi prioritas utama mengingat masih ada santri di bawah reruntuhan yang harus diperlakukan dengan baik.

"Jadi berbagai upaya percepatan sepertinya sudah dilakukan, tapi semuanya tetap harus dengan sangat berhati-hati, karena kita harus melakukan kewaspadaan di bawah itu masih ada santri-santri yang tetap harus mendapatkan perlakuan yang baik," pungkasnya. (KF)

Baca juga: Pemkot Surabaya Siap Dampingi Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru