Potretkota.com - Arsitek dan ahli konstruksi bersatu wakafkan profesi untuk pesantren Indonesia, Senin (20/10/2025) malam. Mereka mengatasnamakan Mastren (Masyarakat Pesantren Nasional).
Acara yang dihadiri oleh pengasuh pondok pesantren dan tokoh penting lainnya ini menandai komitmen untuk meningkatkan kualitas infrastruktur pesantren di seluruh Indonesia.
Muchlis Muhsin, perwakilan pengasuh pondok pesantren mengungkapkan rasa syukur atas inisiatif ini. "Alhamdulillah, malam ini kita deklarasikan teman-teman arsitek dan ahli konstruksi, bahkan dari penghubungan rektor mendeklarasikan dirinya untuk gerakan wakaf profesi mereka membantu pesantren Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bantuan ini sangat bermanfaat bagi pesantren yang selama ini membutuhkan tenaga ahli dalam bidang arsitektur dan konstruksi.
Sementara itu, Gayuh Budi Utomo, Koordinator Region III Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat dari para arsitek.
Baca Juga: Identifikasi Korban Tragedi Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Selesai
"Sebenarnya ini sudah dilakukan sama teman-teman, tapi persoorangan, hanya kenal. Dan saat ini sudah saatnya kita untuk dari regional, dari personal ke regional dan nasional," katanya.
Gayuh juga menekankan pentingnya pendampingan dalam pembangunan pesantren agar tidak hanya bagus dan indah, tetapi juga memenuhi standar kehandalan bangunan. "Ini memang PR kita bersama," tegasnya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Siap Dampingi Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny
Menurut Gayuh, gerakan ini diharap dapat memicu inovasi baru yang muncul dari pesantren, serta memberikan keterampilan di bidang konstruksi kepada para santri.
Menanggapi pertanyaan tentang organisasi profesional yang terlibat, Gayuh menyatakan bahwa IAI telah memberikan dukungan penuh terhadap gerakan ini. "Kalau Ketua Umum kita sudah total support berarti seluruh Indonesia itu sudah kompetibel terhadap gerakan ini," urainya.
Baca Juga: Polda Jatim Pastikan Proses Hukum Ponpes Al Khoziny Berjalan
Masih Gayuh, gerakan ini bersifat terbuka dan inklusif dan mengajak semua pihak untuk berkolaborasi demi kemajuan Indonesia. "Sudah saatnya Indonesia itu berkolaborasi dan sifatnya inklusif," pungkas Gayuh. (KF)
Editor : Redaksi