Buntut Penganiyaan Terhadap Pelajar

Guru SMP Negeri 44 Akhirnya Pamit Keluar

potretkota.com
(tengah) Riky Rianto Guru SMP Negeri 44 Surabaya bersama wali murid

Potretkota.com - Oknum Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 44 Surabaya, Riky Rianto yang memaksa siswinya untuk menggigit sepatu dan kaus kaki, pamit keluar dari sekolah.

Hal itu disampaikan oleh salah satu wali murid bernama Isam, orang tua Rs (13) kelas 7 E SMP Negeri 44 Surabaya. "Pak Riky sudah dipindah," singkatnya pada Potretkota.com, Minggu (28/10/2018), juga mengirimkan screenshot chat dari oknum tersebut.

Baca juga: 3 Siswa Jadi Korban Plafon Ambruk di Kelas SMP Negeri 60 Surabaya

Dalam screenshot chat tersebut, Riky juga mengatakan bahwa dirinya pindah tugas dari SMP Negeri 44 Surabaya, mulai hari Senin, (19/10/2018). "Anak-anak yang saya cintai dan saya banggakan. Mulai Senin Pak Riky tidak bersama kalian lagi. Karena tugas ditempat lain," katanya, melalui screenshot yang dikirim pada Potrekota.com, oleh Isam salah satu orang tua wali murid.

Selain itu Riky juga mengucapkan permintaan maafnya, atas perbuatannya dalam mendidik yang selama ini salah. "Pak Riky pamit dan minta maaf, bila selama ini pernah nyakitin kamu semua. Tetap semangat jangan pernah menyerah, belajar dan tekun beribadah, itu kunci suksesmu," ujarnya.

Baca juga: Pelatih Karate Cabul Minta Penahanan Ditangguhkan

BACA JUGA: Guru SMPN 44 Sebut Pemukulan Bagian Pendidikan

Seperti diketahui, Mv (13), Rs (13), dan Rm (13) bersama orang tuannya mengadukan Riky Rianto ke Kepala Sekolah, hingga menjadi viral dimedia, Jumat (26/10/2018). Kedatangannya tidak lain, meminta agar Guru Bahasa Indonesia segera keluar dari sekolah, karena sudah memaksa para siswa untuk memasukan kaus kaki, sepatu kedalam mulut. Jika tidak dihiraukan, maka akan terjadi pemukulan.

Baca juga: Ali Yusa Dewan Pendidikan Jatim: Saatnya Menghentikan Angka di Rapor Sekolah Dasar

Alasan tersebut diungkap Ricy karena, selama ini, para siswa tidak bisa diatur dengan baik. "Banyak guru yang mengeluh dengan para siswa, khususnya dikelas tujuh," akunya.

Bagi Ricky, berbuat tidak terpuji merupakan salah satu upaya pendidikan di SMP Negeri 44 Surabaya. "Dan ada bermacam cara untuk mendidik, kalau tidak bisa dimarahi dengan ucapan, ya saya panggil orang tuanya. Tapi selama ini orang tua yang dipanggil tidak datang. Terus saya jewer atau tak pukul. Bukan saya saja, tapi banyak guru-guru disini juga seperti itu," dalihnya. (SA)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru