Oleh : Achmad Syaiful Bahri

Keunikan Relief Gapuro Limo Sunan Ampel

avatar potretkota.com
Relief Cengkeh di Gapuro Makam Sunan
Relief Cengkeh di Gapuro Makam Sunan

Potretkota.com - Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel bukan hanya sekedar lokasi ziarah Waliyullah yang paling dituakan di antara Sembilan Wali atau yang biasa dikenal sebagai Wali Songo, yakni Sunan Ampel. Kawasan makam Waliyullah yang bernama asli Raden Ahmad Rahmatullah ini, banyak menyimpan bingkai sejarah penyebaran Islam berikut sistem kekuasaannya.

Salah satu sistem penguasaan yang hanya sedikit orang memahami adalah bagaimana cara Sunan Ampel membuat hak paten terhadap rempah-rempah untuk Nusantara, yang dikenal dengan Tanah Jawa. Hak paten itu dengan mudah dapat ditemukan di sekitar makam Sunan Ampel, yaitu disebut Lima Gapura yang dalam bahasa Jawa dengan Gapuro Limo.

Baca Juga: GRDK Serukan Tolak Zakat Koruptor di Gedung Grahadi

Gapura-gapura tersebut tergolong unik, karena bagi yang hanya sekedar berziarah, tak ubahnya gapura-gapura berukir sebagai penghias Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel. Namun siapa sangka jika ternyata kelima gapura tersebut menyimpan makna yang pertunjukan, makna yang sedikit atau bahkan sama sekali tidak diketahui banyak orang.

Pada gapura kelima yang terhitung dari gapura pertama yang terletak di pinggir Jalan Sasak, Surabaya, hingga gapura terakhir yang terdekat dengan makam Sunan Ampel terdapat relief. Relief-relief tersebut berukir bunga-bunga, yang ternyata adalah ukiran bunga-rempah. Ada yang berbentuk bunga cengkeh, dan ada yang berbentuk bunga lawang.

Adalah hak Khotib Ismail Ketua komunitas Ampel Heritage, bersama Nanang Purwono pegiat sejarah Surabaya, mengungkap makna dibalik relief-relief yang tergambar pada lima gapura di sekitar makam Sunan Ampel. Menurut keduanya, relief ini diyakini sebagai relief rempah-rempah karena secara keseluruhan tergambar dengan jelas beberapa jenis rempah.

“Mungkin jika anda pertama kali turun di pinggir Jalan Sasak itu disebut Gapuro Munggah, masuk lagi Gapuro Poso, masuk lagi Gapuro Mengadep, dan (Gapuro) Ngamal dan ini (Gapuro) Penyaksen,” kata Khotib dalam sebuah wawancara eksklusif di pintu masuk makam Sunan Ampel seumur hidupnya beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Dishub Jatim Siapkan 96 Bus Mudik dan Kapal Gratis

Tidak hanya relief yang tergambar bentuk rempah-rempah, keunikan lain pada Gapuro Limo ini adalah dari segi bentuk yang tidak sama, ornamen dengan pola yang berbeda, juga lebarnya yang kian mengecil ke arah makam Sunan Ampel. Menurut Khotib, baik dari bentuk maupun ornamen pada tiap-tiap gapura adalah gambaran seni artistik era Majapahit.

Mengingat wilayahnya yang dikenal dengan nama Ampel Denta, yang kala itu merupakan tanah perdikan Kerajaan Majapahit. Dalam buku Oud Soerabaia karangan Von Faber terbitan tahun 1931 dan buku History of Java karya Raffles dituliskan bahwa saat Sunan Ampel menerima tanah perdikan Ampel Denta, Sunan Ampel memboyong 3000 keluarga dari Trowulan, Majapahit.

Jadi tinggal dikalikan saja, kalau mau model KB (Keluarga Berencana) sekarang dua anak cukup berarti kali empat, tidak bisa dibayangkan seberapa besar komunitas yang dibawa oleh beliau dari Trowulan menuju ke Ampel Denta ini. Nah itu satu hal ya, kemudian dari sisi tadi mengenai bagaimana ornamen, bentuk dan sebagainya, jelas sekali dari gayanya gaya Jawa,” terang Khotib.

Baca Juga: Presiden Kado Pentashih Mushaf Al-Qur’an

Semantara itu, Nanang Purwono mengungkapkan, dari hasil temuan oleh komunitas pegiat sejarah yang dibinanya bersama Khotib, dari tiap-tiap relief yang terukir, terlihat jelas gambar bunga rempah-rempah. Sehingga gambar dari setiap relief itu sangat nyata dan sama persis, terutama pada relief cengkeh dan bunga lawang. Inilah nilai artistik yang ditonjolkan oleh Sunan Ampel dan para santrinya.

"Jika kita berbicara tentang relief, simbol-simbol, khususnya cengkeh, maka inilah relief yang paling nyata, relief yang paling realistis sesuai dengan gambar atau keaslian bunga cengkeh. Ada bunganya, ada daunnya. Ini juga mendorong rasa ingin tahu kita, ketika ada simbol di lingkungan makam dan masjid Sunan Ampel ini, apakah masyarakat di lingkungan Sunan Ampel ini masih melestarikan," tukas Nanang.   (*)

Berita Terbaru