Potretkota.com - Para petani singkong tapioka di Desa Reno Basuki, Kecamatan Bumi Nabung, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk non subsidi. Sementara itu, kebutuhan pupuk terus meningkat bagi para petani. Para petani menduga kelangkaan dikarenakan tidak adanya keterbukaan dalam penyaluran.
Kelangkaan pupuk subsidi jenis urea dan phonska sudah menjadi permasalahan bagi para petani dari tahun ke tahun. Meskipun pupuk subsidi tersedia melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), namun stoknya terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan para petani. Untuk mendapatkan pupuk subsidi, saat ini terlalu banyak persyaratan, seperti harus pakai kartu khusus dari pemerintah atau Gapoktan.
Baca Juga: Bos Kontraktor Ini Diperiksa Hakim Tipikor Surabaya Awal Tahun 2026
Untuk mengatasi kelangkaan pupuk subsidi, para petani singkong di Desa Reno Basuki terpaksa membeli pupuk non subsidi dengan harga yang cukup mahal. Irawan (30) salah seorang petani singkong di Desa Reno Basuki mengatakan, dengan menggunakan pupuk non subsidi, biaya sarana prasarana produksi yang dikeluarkan para petani bertambah sehingga keuntung para petani berkurang disaat panen.
Menurut Irawan, untuk saat harga pupuk subsidi jenis phonska senilai Rp140.000 per sak (50 Kg) dan harga pupuk urea Rp130.000 per sak. Sedangkan untuk harga pupuk non subsidi yakni, Rp160.000 per sak untuk pupuk jenis phonska dan Rp150.000 per sak untuk pupuk jenis urea. Meskipun pupuk subsidi tersedia di Gapoktan, namun, pupuk subsidi yang di peroleh hanya dua sak yakni 100 kilogram.
Jumlah tersebut tidak mencukupi kebutuhan para petani. Untuk satu hektar kebun singkong petani membutuhkan 400 Kilogram pupuk. Selain pupuk yang digunakan untuk meningkat kualitas dan kuantitas, para petani singkong juga membutukan obat-obatan pertanian yang harganya juga tidak kalah mahal, seperti halnya obat semprot untuk membasmi hama dan rumput.
Untuk harga obat semprot harga jual di pasaran berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per liter. “Di pasaran semua jenis pupuk non subsidi mengalami kenaikan harga, ditambah jenis pupuk phonska langka di pasaran, dan harga obat-obat pertanian melambung tinggi,” kata Irawan, Selasa (17/05/2022).
Hal senada diungkapkan Natio (60), petani singkong lainnya di Desa tersebut. Natio mengungkapkan bahwa stok kebutuhan pupuk subsidi tidak seperti yang sering diungkapkan para pejabat pemerintahan yang selalu menyatakan ketersediaan pupuk subsidi untuk para petani tercukupi. Namun faktanya, kelangkaan pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk menjadi kendala dari tahun ketahun.
“Permasalahan yang dihadapi petani singkong di desa kami dan daerah lainya di Lampung yakni kelangkaan pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk non subsidi telah menjadi kendala setiap tahunnya,” ujar Natio.
Natio menuturkan, untuk saat ini para petani singkong sedikit lega karena harga singkong dinilai bagus, saat ini harga singkong Rp1.950 per kilogram. Harga tersebut merupakan harga kotor, setelah dipotong biaya bongkar muat dan potongan dari pabrik pengepul singkong tapioka berkisar 25 persen hingga 30 persen. Petani singkong menerima harga bersih Rp1.500 per kilogram.
Baca Juga: Ganjar Siswo Pramono Pemkot Surabaya Terima Uang dari PT Prasasti Tiara Ayunda Rp450 Juta
Natio berharap permasalahan kelangkaan pupuk subsidi di daerah menjadi perhatian khusus pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, selain itu, Natio juga berharap harga singkong tetap stabil di harga standar yakni Rp1.500 per kilogram, karena jika harga singkong di bawah standar maka para petani tidak mendapatkan keuntungan.
“Kalau harga singkong dibawah harga standar, maka kami para petani singkong tidak mendapatkan keuntungan dari hasil panen karena biaya operasional tidak sebanding harga jual singkong,” tukas Natio. (Rio)
Editor : Redaksi