PT Granting Jaya Gandeng EO Cari AMDAL

Penolakan Reklamasi SWL, Heroe FMMM: Kajian Lemah

avatar potretkota.com
Penolakan Reklamasi Surabaya Waterfront Land
Penolakan Reklamasi Surabaya Waterfront Land

Potretkota.com - Forum Masyarakat Madani Maritim (FMMM) yang terdiri dari para Nelayan, Petani Tambak, Masyarakat Pesisir, di seluruh Kelurahan Bulak, Kelurahan Kedungcowek, Kelurahan Sukolilo Baru, Kelurahan Kenjeran. Kelurahan Kalisari, Kelurahan Dukuh Sutorejo, Kelurahan Kejawan Putih Tambak, Kelurahan Keputih Sukolilo, Kelurahan Wonorejo, Kelurahan Medokan Ayu, Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kelurahan Rungkut Tengah, melakukan protes terhadap reklamasi Surabaya Waterfront Land.

Bersama Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DPC Surabaya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), Badan Eksekutif Mahasiswa, Organisasi Mahasiswa Ekstra, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah serta warga kota Surabaya, mereka menolak proyek Surabaya Waterfront Land (SWL), Jumat (13/12/2024).

Baca Juga: Surabaya Pesisir yang Selalu Siap, Kecuali Saat Air Datang

Koordinator FMMM Heroe Budiarto mengatakan, kajian yang dilakukan PT Granting Jaya sangat lemah. “Kajian yang dilakukan PT Granting Jaya seharunsya betul-betul murni dan tidak memaksakan kehendak,” katanya, padahal sudah ada pernyataan sikap penolakan reklamasi Surabaya Waterfront Land (SWL).

Terlebih, PT Granting Jaya menggandeng event organizer bernama HAPPI. “EO ini melakukan diskusi publik dan loka karya yang dibiayai oleh Granting, infonya ratusan juta, tapi itu berkepihakan kepada masyarakat atau pengembang,” tegas Heroe.

Baca Juga: Ali Yusa: 7 Langkah Mendampingi Masyarakat Pesisir Penolak SWL

Menurut Heroe, forum diskusi dan loka karya melalui HAPPI merupakan kemasan PT Granting Jaya untuk memperoleh persyaratan menuju ke Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Ini yang kami kami sayangkan bahwa pada faktanya nelayan menolak itu karena memang tempat yang dijadikan pulau reklamasi adalah fishing ground tempat penangkapan ikan para nelayan dan pencarian kerang dan segala sumber apa biota laut yang dijadikan nafkah sehari-hari,” ungkapnya.

Baca Juga: Pemukulan Warnai Sosialisasi Amdal Surabaya Waterfront Land

“Nah kemudian melihat perkembangan mereka tidak berhasil lalu mengundang dan melibatkan kelompok keagamaan seperti PCNU dan Muhammadiyah, yang ditingkat nelayan dan warga terdampak sendiri belum tuntas, ngapain harus diperlebar,” tambahnya.

Heroe tidak terima jika kelompoknya di framing sebagai sebuah gerombolan yang melakukan kekacauan terhadap pembangunan reklamasi Surabaya Waterfront Land. “Padahal forum ini hanya semata-mata sebagai wadah komunikasi antar warga terdampak, kolompok kami merupakan sebuah wadah untuk mendapatkan informasinya cukup lengkap untuk melakukan tukar pikiran dan lain sebagainya,” jelasnya. (Hyu)

Berita Terbaru