Potretkota.com – General Manager (GM) Hotel Majapahit Surabaya, Kahar Salamun menanggapi surat edaran Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur (Jatim) Adhy Karyono yang mengimbau seluruh hotel di Jawa Timur untuk membuat satu space khusus Pojok Budaya. Space tersebut dianjurkan untuk menampilkan beragam kegiatan kebudayaan lokal Jawa Timur. BERITA TERKAIT: Evy Afianasari Dukung Pojok Budaya di Hotel se Jatim
Budaya lokal yang dimaksud seperti wayang, musik, tari-tarian, maupun adat budaya lainnya. Kahar Salamun, pria yang sudah malang melintang di dunia perhotelan sejak tahun 1999 itu, mengangap ide Adhy Karyono sangat bagus. Kahar mengatakan, untuk Hotel Majapahit sendiri, jauh sebelum ada ide dari Pj Gubernur Jatim, sudah melakukan hal tesebut.
Baca juga: Kopling Sawah, Bisnis Sederhana di Pasuruan Untung Jutaan Rupiah
Salah satunya yang hingga sekarang diperthankan adalah hidangan-hidangan khas Jawa Timur. Ditambah lagi dengan adanya kolaborasi bersama produsen batik lokal yang hasil produksinya dipajang dan dijual di lobby hotel. Tentu hal ini semakin menambah nuansa kebudayaan lokal Jawa Timur untuk memikat hati para tamu Hotel Majapahit.
“Sebetulnya sangat bagus, dan itu kita jalankan. Kalau sebetulnya, seperti yang saya bilang tadi bahwa Hotel Majapahit DNA nya itu ke semangat juang kemudian ke local culture, dan kita udah mulai misalnya makanan sebagian besar menu kita makanannya makanan Indonesia dan kebetulan tamu saya 67% itu orang asing,” kata Kahar, di sela HUT Hotel Majapahit yang ke – 114, Sabtu, (01/06/2024).
Baca juga: Bisnis Vila Tretes Jelang Malam Tahun Baru 2026 Meredup
Lebih jauh lagi dari imbauan Pj Gubernur Jatim, Kahar justru mengungkapkan ingin secara rutin ada pementasan kebudayaan di Hotel Majapahit. Misalnya, kata Kahar, Rijsttafel dinner yang diiringi pewayangan yang dimainkan sekitar satu jam atau tari-tarian Jawa. Menurutnya, mencari hal semacam ini di Surabaya itu susah.
“Kemudian lagi kalau kita bicara dengan teman-teman seniman itu kasihan dengan mereka, mereka latihan terus tapi mereka tidak punya panggung , seperti itu. Dulu ada Reog, kalau nggak salah, sekarang sudah tidak ada yang bisa ditonton oleh turis. Nah ini yang membuat kita mencoba untuk mempioner untuk ngangkat kebudayaan lokal,” terang Kahar.
Baca juga: Kolektor Keturunan Tionghoa Punya 1000 Lebih Keris Pusaka
Kahar mencontohkan kebudayaan yang sudah berjalan seperti Jogjakarta dan Bali, yang mana kebudayaan di sana sudah terjaga dan menjadi rutinitas warga yang tidak memerlukan penonton seperti turis. Oleh karenaya, Kahar berharap Pemerintah Daerah Jawa Timur membuat sebuah gebrakan, memberikan lebih banyak lagi ruang bagi para seniman.
“Makanya beberapa kali pertemuan dengan Pemda saya bilang, perlu ada gebrakan dari pemerintah untuk mengadakan ini, karena kalau Jogja itu Keraton yang jadi motornya, kalau dari Bali itu linear culture, orang ngek (melahirkan) sudah ada upacara apa segala macem, udah jalan gitu, tari-tarian segala macem tidak perlu ada turis,” tandas Kahar. (ASB)
Editor : Redaksi