Pembentukan Dapil dan Tim Hukum

ARSM Konsolidasi Pemenangan Kotak Kosong Pilkada Surabaya

potretkota.com
Konsolidasi pemenangan kotak kosong Pilkada Surabaya.

Potretkota.com – Mendekati coblosan Pilkada Surabaya 2024 tanggal 27 November, Aliansi Relawan Surabaya Maju (ARSM) yang tergabung dalam relawan pemenangan Presiden Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka bersama puluhan masyarakat melakukan rapat konsolidasi pemenangan kotak kosong di Surabaya.

Dalam kesempatannya, Rudi Gaol salah satu koordinator ARSM mengatakan, jika kotak kosong menang Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Jangan dikira jika kalau kotak kosong menang tidak ada Walikotanya, tetap ada. Ini malah lebih baik, karena kalau kotak kosong menang akan langsung diwakili oleh Pemerintah Pusat melalui Pj Walikota. Programnya tetap ada, karena APBD tahun 2025 bernilai Rp12,3 triliun sudah digedok,” katanya, Jumat (8/11/2024).

Baca juga: ARSAS Cangkrukan Bersama Elemen Masyarakat Surabaya

Menurut Rudi Gaol, alasan memilih kotak kosong karena kecewa dengan kepemimpinan Walikota Surabaya Eri Cahyadi. “Dulu kami ini relawan Eri Cahyadi saat mencalonkan Walikota Surabaya 2020 lalu. Kita saat itu punya ekspektasi Eri Cahyadi akan jauh lebih baik dari Tri Rismaharini, tapi ternyata jauh dari kenyataan, perubahan tidak kelihatan,” jelasnya.

Sementara, Bagus salah satu warga terdampak surat ijo dari Dharmahusada Surabaya, juga mengungkapkan bahwa meilih kotak kosong lebih baik. “Dari kelompok surat ijo banyak yang sepakat kotak kosong,” ungkapnya.

Baca juga: Menolak Penghapusan Pilkada Langsung

Selain itu, Bagus juga menyebut Eri Cahyadi saat menjabat sebagai Walikota Surabaya belum bisa mensejahterahkan masyarakat dalam hal hunian layak. “Lihat saja, rusunawa-rusunawa sudah dikuasai oknum partai tertentu untuk disewakan, sudah diploting oleh meraka, masyarakat susah mendapatnya,” ujarnya.

Tak hanya Bagus, banyak pendapat miring tentang gaya kepemimpinan Eri Cahyadi. Masing-masing peserta yang hadir menyampaikan, sudah melakukan pergerakan dengan cara sukarela, melalui menggerakan ojok online, pasang stiker, spanduk, banner hingga sosialisasi dari warung-ke warung hingga ke pasar tradisional.

Baca juga: Polisi Tetapkan 2 Tersangka Pembongkaran Rumah Nenek Elina 

Dianggap kurang cukup, Hariadi salah satu koordinator ARSM lalu membentuk koordinator tingkat kecamatan dengan melakukan pembagian wilayah. Koordinator Dapil 1 Satria, Dapil 2 Yudi, Dapil 3 Anam, Dapil 4 Sugeng dan Dapil 5 Robi.

Hariadi saat pembentukan menyampaikan, sudah menyiapkan 25 tim hukum dan bekerjasama dengan salah satu organisasi pemantau pemilu. “Tugas tim hukum nantinya akan melakukan advokasi jika ada intimidasi dari oknum penyelenggara pemilu, pemerintahan ataupun penegak hukum, tim hukum juga akan mendampingi kecurangan pemilu, yang pada akhirnya kecurangan pemilu bisa kami bawa ke Mahkamah Konstitusi,” pungkasnya. (Hyu)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru