Evaluasi Tahunan

Penjelasan UAH Tentang Bulan Muharram atau 1 Suro

Reporter : Achmad Syaiful Bahri
Foto: Instagram Ustadzah Adi Hidayat

Potretkota.com - Malam tahun baru 1 Muharram 1447 Hijriah menjadi malam yang sangat istimewa bagi kaum muslim. Namun meski malam yang dalam tradisi Jawa disebut dengan malam 1 Suro itu sangat istimewa, pola peringatan atau perayaan yang dilakukan tidaklah seperti malam perayaan tahun baru Masehi. Islam punya cara tersendiri untuk merayakannya. Salah satunya ialah dengan ibadah.

Sayangnya, terhadap bulan Muharram masih banyak yang tidak memahami, bahkan menjadikannya sebagai momen ritual yang jauh dari tuntunan Islam. Masih banyak yang beranggapan bahwa malam tanggal 1 Muharram merupakan malam keramat, sehingga banyak yang berperilaku musyrik, sesat dan menyesatkan seperti memandikan pusaka, mandi kembang, dan ritual-ritual musyrik lainnya.

Lantas seperti apa makna bulan Muharram itu sendiri dalam sudut pandang Islam? Berikut penjelasannya. Dalam satu ceramahnya, Ustadz Hadi Hidayat mengatakan, penyebutan yang benar untuk bulan Muharram dalam tahun Hijiriah ialah al-Muharram. Artinya, meninggalkan segala bentuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Tolong bedakan ada Muharram, ada haram, ada al-Muharram, ada muhrim, ada ihram, beda. Muharram segala yang diharamkan, mencuri Muharram, penipu maharram, mencela, merendahkan orang itu Muharram. Segala yang diharamkan, yang dilarang itu disebut dengan Muharram, hukumnya disebut dengan haram,” kata ustadz yang akrab dengan sapaan UAH.

Menurut UAH, orang yang berupaya menanggalkan segala hal yang dilarang disebut muhrim, pakaiannya ihram. Ooleh karena itu dalam umrah dan haji ketika menggunakan pakaian ihram dia berkomitmen untuk menanggalkan dan meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT, sejak saat itu sampai dia selesai menunaikan ibadahnya.

Selain itu, filosofi bulan al-Muharram menurut UAH, jika seseorang ingin mengganti waktu untuk meninggalkan segala yang dilarang dan ingin berusaha menjadi lebih baik, maka rumusnya ada di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitabul Iman disebutkan, meninggalkan segala yang tidak baik menjadi baik itulah Hijrah.

“Kalau kita ingin masuk ke dalamnya dengan sifat disebut dengan Hijriyah maka kalau ingin memulai Hijrah pesan dari Nabinya sederhana, tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang dilarang yang hukumnya haram. Maka rumusnya dalam bahasa arab, salah satunya tambahkan alif lam pada kata itu Muharram tambah alif lam menjadi al-Muharram,” terang UAH.

Sedangkan, bulan pertama dalam kalender Hijrah disebut bulan al-Muharram untuk memberi pesan bahwa jika ingin mengawali tahun dengan baik, menjadi orang lebih baik, usahanya baik, semua pekerjaannya baik, maka mulailah berlatih dengan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT. Bahkan, di zaman Jahiliyah saja makna al-Muharram sudah dipraktekkan sebelum datangnya Islam.

Di kalangan Jahiliyah, ada 4 bulan pesan dari Nabi-nabi sebelumnya, disampaikan lewat lisan sehingga sampai ke masyarakat lingkungan Nabi. Kalau tiba 4 bulan ini, maka semua menjaga diri dari perbuatan yang terlarang. Kalau sudah ada 4 bulan ini, perang bisa dihentikan. Berhenti mencela, berhenti menyakiti untuk menghormati 4 bulan tersebut.

Keempat bulan yang dimaksud, dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh Ibnu Abbas R.A, terdapat 3 bulan yang berurutan dan 1 bulan terpisah. Bulan-bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Zulhijah, al-Muharram dan Sya’ban. Keempat bulan di tahun Hijriyah tersebut bahkan ditegaskan di dalam al-Qur’an surah 9 at-Taubah ayat 36 sebagai bulan yang harus dihormati oleh umat Islam.

“Ada 4 bulan terhormat, 4 bulan ini terhormat di sisi Allah SWT. Jadi mesti dijaga kehormatannya, penjagaan kehormatan untuk menjaga kehormatan kita, karena kita ini lahirnya terhormat. Kita makhluk Allah Kholiq. Satu-satunya Tuhan yang menyebut diri-Nya Khalik dalam kitab sucinya hanyalah Allah SWT,” jelas UAH.

Bulan al-Muharram sejatinya adalah bulan untuk mengevaluasi diri mulai dari tiap pekan, dan tiap bulan. Dalam setahun sampai bulan Ramadan, ada 4 bulan yang khusus yaitu 3 terangkai bulan 11, 12 dan bulan pertama, yakni bulan al-Muharram. Dalam pemahaman yang diajarkan di pesantren, bulan al-Muharram bisa disebut juga dengan menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. (ASB)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru