Prestasi Tak Sejalan Penghargaan, Atlet Kota Pasuruan Kecewa

avatar potretkota.com
Piagam medali milik atlit Pasuruan.
Piagam medali milik atlit Pasuruan.

Potretkota.com - Kepemimpinan Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo dan Wakil Wali Kota M. Nawawi menjadi sorotan setelah besaran reward bagi atlet peraih medali dalam Porprov Jatim IX 2025 di Malang Raya dinilai menurun dibanding edisi sebelumnya.

Keluhan datang dari wali atlet, pelatih hingga atlet peraih medali. Mereka menyayangkan kebijakan Pemerintah Kota Pasuruan melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) yang memangkas nominal penghargaan.

Baca Juga: Pembalap Pelatnas asal Sidoarjo Takluk di Tanjakan Punjul Pasuruan

“Pak Wali Kota bilang karena minimnya anggaran,” ujar Joko Listyono, pelatih Shorinji Kempo, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, penurunan paling terasa terjadi pada medali perunggu. “Peraih medali perunggu sekarang mendapatkan Rp5 juta, turun dari Porprov 2023 yang sebesar Rp10 juta,” jelasnya.

Nominal Turun, Peringkat Juga Merosot

Pada Porprov Jatim IX 2025, Kota Pasuruan menduduki peringkat ke-32 dari 38 kabupaten/kota dengan raihan 6 medali emas dan 7 medali perak.

Sementara pada Porprov VIII tahun 2023, Kota Pasuruan berada di peringkat ke-29 dengan perolehan 6 emas, 12 perak, dan 22 perunggu. Tak hanya peringkat yang turun, nominal reward pun menyusut signifikan. 

Tahun 2023, atlet peraih medali mendapatkan Emas: Rp30 juta, Perak: Rp20 juta, Perunggu: Rp10 juta. Sedangkan pada 2025, Emas: Rp10 juta, Perak: di bawah Rp10 juta dan Perunggu: Rp5 juta.

Penurunan ini dinilai kontras dengan beban latihan dan pengorbanan atlet yang tetap sama, bahkan meningkat.

Protes di Grahadi Bhakti Praja

Penyerahan reward yang digelar di Gedung Grahadi Bhakti Praja Kota Pasuruan diwarnai aksi protes simbolik. Sejumlah atlet melempar plakat bertuliskan nominal penghargaan yang akan diterima sebagai bentuk kekecewaan.

Baca Juga: Hakim Minta Pengurus KONI Kota Kediri Kembalikan Uang Korupsi

“Perjuangan kami seakan tak dihargai oleh daerah sendiri,” tandas Riyan, salah satu atlet Muay Thai. 

Riyan mengaku kecewa karena nominal yang diterima tidak sesuai ekspektasi. “Jujur kecewa karena tidak sesuai yang dijanjikan Rp10 juta,” ungkapnya.

Disparpora: Jadi Evaluasi

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disparpora Kota Pasuruan, Murtadho, menyatakan akan menjadikan polemik ini sebagai bahan koreksi.

“Yang jelas ini bahan koreksi untuk ke depannya,” ujarnya. Ia menyebut baru satu bulan menjabat menggantikan Dicky Yudho.

Baca Juga: Lintas Generasi Ramaikan Acara Friday Night Run Pasuruan Kota

Namun, bagi atlet dan pelatih, evaluasi belum menjawab rasa kecewa atas penghargaan yang dinilai tak sebanding dengan prestasi.

Antara Keterbatasan Anggaran dan Prioritas Daerah

Alasan minimnya anggaran menjadi dasar kebijakan pemangkasan reward. Namun publik menilai perlu ada transparansi terkait prioritas belanja daerah, khususnya pada sektor pembinaan olahraga.

Di tengah turunnya peringkat dan pemangkasan penghargaan, muncul pertanyaan besar: sejauh mana komitmen pemerintah daerah terhadap prestasi atletnya?

Bagi atlet, medali adalah kebanggaan daerah. Namun penghargaan yang layak adalah bentuk penghormatan. Jika apresiasi terus menyusut, dikhawatirkan semangat berprestasi pun ikut meredup. (dyt)

Berita Terbaru