Potretkota.com – Sudah lebih dari tiga dekade Bu Panut bertahan berjualan di kawasan pesisir Kenjeran Park Surabaya. Sejak 1991, saat kawasan itu masih berupa tambak dan lahan kosong, ia bersama almarhum suaminya menguruk tanah sedikit demi sedikit untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus lapak usaha.
Kini, kondisi yang ia hadapi jauh berbeda. Kawasan yang dulu ramai pengunjung itu disebutnya mengalami penurunan drastis sejak pertengahan pandemi Covid-19.
Baca Juga: Didampingi Kejaksaan Proyek Jembatan Bambu Wisata Mangrove Pemkot Surabaya Tak Karuan
“Saya sejak tahun 1991 masuk sini. Di sini masih tambak. Keadaan sekarang sepi sekali, bukan sepi saja tapi sangat sepi sejak pertengahan Corona. Sewaktu Corona masih mendingan, tapi setelah itu sangat merosot,” ujar Bu Panut saat ditemui, Rabu, (04/03/2026).
Ia mengaku, bahkan untuk membeli kursi tambahan bagi pengunjung pun sudah tidak mampu. Pada hari Minggu yang biasanya menjadi tumpuan harapan, pembeli tak selalu datang.
“Terkadang hari Minggu saja saya tidak dapat pelaris. Lebaran tahun kemarin cuma bisa jual kelapa muda 15 biji, sedangkan saya tengkulaknya 50 biji, itu pun dapat dari hutang,” tuturnya.
Menurut Bu Panut, salah satu penyebab menurunnya minat pengunjung adalah tertutupnya pemandangan laut oleh tumbuhan liar di sekitar pantai. Padahal, daya tarik utama kawasan tersebut dulunya adalah panorama laut lepas.
“Dulu murni pengunjung datang itu untuk menikmati pemandangan laut. Kalau hari Valentine atau malam tahun baru, ramai sekali. Sekarang banyak orang datang kecewa karena tidak bisa menikmati pemandangan laut,” katanya.
Sebagian pengunjung, lanjutnya, kini memilih beralih ke Jembatan Suroboyo. “Hanya saja di sana tempatnya panas,” imbuhnya.
Ia juga menyebut kawasan wisata air Atlantis Land Kenjeran yang berada tak jauh dari lapaknya kini ikut sepi. “Wisata air Atlantis saja sekarang sudah sepi sekali,” ujarnya.
Bu Panut kini tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucunya. Ia memiliki empat anak dan sepuluh cucu. Deretan warung di sekitar lokasi ditempati anak-anaknya yang juga bertahan berjualan.
Baca Juga: Kopling Sawah, Bisnis Sederhana di Pasuruan Untung Jutaan Rupiah
“Anak saya 4 orang, cucu saya 10 orang. Cucu-cucu sudah sekolah semua, ada yang SD, SMP, dan SMA,” katanya.
Namun, biaya pendidikan menjadi beban berat. Salah satu anaknya bahkan harus menjual sepeda motor untuk membayar tunggakan sekolah.
“Anak saya ada yang sudah menunggak berbulan-bulan sampai terpaksa jual motornya untuk biaya sekolah cucu saya,” ungkapnya.
Ia mengaku hampir tak pernah menerima bantuan. “Tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun. Hanya pernah sekali masing-masing cucu saya dapat Rp600 ribu untuk sekolahnya, setelahnya tidak pernah sama sekali,” tuturnya.
Anak-anak Bu Panut yang berjualan keliling pun tak luput dari penertiban. “Kadang jualan baru gelar sudah ditertibkan sama Satpol PP, diambil LPG-nya, diambil peralatannya, kejar-kejaran,” katanya.
Baca Juga: Bisnis Vila Tretes Jelang Malam Tahun Baru 2026 Meredup
Ia mengenang masa ketika pelaku UMKM kerap dilibatkan dalam kegiatan kota. “Dulu sewaktu Wali Kota Surabaya masih Bu Risma, anak-anak saya sering diajak jualan UMKM,” ujarnya, merujuk pada mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
Meski kondisi serba sulit, Bu Panut memilih bertahan. Ia memegang pesan almarhum suaminya untuk tetap tinggal selama tidak ada perintah pindah.
“Pesan mendiang suami saya, pokoknya selagi tidak disuruh pindah ya tetaplah tinggal di sini,” katanya lirih.
Soal penghasilan, ia mengaku kini hanya bisa menutup kebutuhan harian dengan bantuan anak-anaknya. “Untuk makan saja saya masih harus gali lubang tutup lubang. Malam tahun baru kemarin saja tidak ada pengunjung sama sekali, apalagi hari-hari biasa seperti sekarang,” ujarnya.
Bu Panut tak berharap banyak. Baginya, yang terpenting adalah tetap diberi ruang untuk bertahan hidup. “Saya tidak berharap banyak, yang penting diberi tempat. Mudah-mudahan tahun ini ramai,” pungkasnya penuh harap. (ASB)
Editor : Redaksi