Volume di Surabaya Aman

Konflik Timur Tengah Picu Delay 85 Persen Kapal, TTL Targetkan 75 Ribu TEUs Langsung ke Middle East

avatar Achmad Syaiful Bahri
Presiden Direktur PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait.
Presiden Direktur PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait.

Potretkota.com – Konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada arus pelayaran internasional menuju Indonesia. Presiden Direktur PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, mengungkapkan sekitar 85 persen kapal internasional saat ini mengalami keterlambatan akibat gangguan jadwal pelayaran global.

“Kalau dari data kami, sama dengan TPS, sekitar 85 persen kapal delay. Karena setiap service internasional itu punya window masing-masing, ada yang weekly, ada yang sudah ditentukan hari dan jam sandarnya,” ujar David dalam sesi tanya jawab bersama media di Surabaya, Selasa, (03/03/2026).

Baca Juga: BPOM dan TPS Lepas Ekspor Rempah ke Amerika Serikat

Menurutnya, sistem pelayaran internasional bekerja dengan pola putaran tetap. Dalam satu siklus 42 hari misalnya, terdapat tujuh kapal yang beroperasi. Ketika terjadi gangguan di satu titik, maka efeknya akan berantai.

“Kalau delay di Middle East, operator kapal punya pilihan. Mau menambah satu kapal adhoc untuk recovery atau melakukan omit di terminal tertentu. Kalau volumenya kecil, bisa saja mereka omit di Semarang, Jakarta, bahkan Surabaya untuk mengejar jadwal berikutnya,” jelasnya.

Meski terjadi keterlambatan, David memastikan volume peti kemas di Surabaya tidak mengalami penurunan signifikan. Bahkan, layanan langsung ke Timur Tengah justru ditargetkan meningkat tahun ini.

“Kalau tahun lalu langsung ke Middle East sekitar 30 ribu TEUs tanpa melalui Singapura atau Malaysia, tahun ini kami targetkan bisa sampai 75 ribu TEUs. Rata-rata 1.000 sampai 1.500 TEUs per minggu,” tegasnya.

Ia menyebut, dalam tiga bulan terakhir terdapat tambahan service baru, termasuk dari operator global yang membuka rute langsung ke kawasan Middle East dan India Subcontinent.

David juga menjelaskan bahwa kapasitas alur pelayaran di Surabaya memiliki keterbatasan draft. Kapasitas Surabaya dibatasi dengan draft maksimal 13,5 meter. Sementara kapal long haul ke Eropa dan Amerika rata-rata di bawah 16 meter. Hal ini merupakan penyesuaian teknis.

Selain konflik, faktor cuaca seperti taifun juga berpengaruh pada jadwal kapal. Bahkan di awal Januari lalu, waktu tunggu kapal di Singapura sempat mencapai dua minggu.

Baca Juga: BCMS di TPS: Standar Internasional atau Sekadar Formalitas Pelabuhan?

“Sekarang sudah turun jadi sekitar tiga sampai lima hari. Di kami mungkin ada waktu tunggu, tapi bukan karena ketidaksiapan. Kadang delay sekali datang tiga kapal bersamaan, tentu harus menunggu sesuai window,” imbuhnya.

David turut menyinggung dampak rob di Jawa Tengah yang sempat mengganggu produksi sejumlah pabrik. Beberapa pabrik di Jawa Tengah mengurangi produksi. Sekitar 20 persen sehingga kargonya dialihkan lewat darat ke Jakarta atau Surabaya untuk diekspor. Namun secara umum, ia memastikan Surabaya tetap stabil dari sisi volume.

“Volume di Surabaya tidak mengalami penurunan signifikan. Yang sempat turun itu karena omit di beberapa pelabuhan lain,” ujarnya.

Lebih jauh, David menyoroti dampak transformasi operasional pascamerger terminal di kawasan Indonesia Timur. Efektivitas kinerja yang meningkat disebut berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga: TPS Siapkan 10.000 Bibit Mangrove: Solusi Ekologis atau Sekadar Etalase Hijau Korporasi?

“Merauke dua tahun terakhir pertumbuhan ekonominya 17 persen. Nasional hanya 5,11 persen. Itu menunjukkan pelabuhan bukan hanya gateway, tapi ekosistem ekonomi,” katanya.

Ia mengakui sebelumnya Merauke tidak memiliki depo peti kemas, sehingga penumpukan terjadi di dalam area pelabuhan. Jika yard penuh, maka peti kemas tidak bisa tampung lagi. Karena itu PT Terminal Teluk Lamong mendorong perusahaan pelayaran agar memiliki depo peti kemas di Indonesia Timur, khususnya Merauke.

David menegaskan, dampak penuh konflik global terhadap arus logistik Indonesia baru akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.

“Ini baru hari keempat konflik. Biasanya dampaknya baru terasa dua sampai tiga minggu. Nanti akan terlihat bagaimana pengaruhnya secara global,” tutupnya. (ASB).

Berita Terbaru