Potretkota.com — Jumlah jemaah umrah asal Jawa Timur terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah dinamika kondisi penerbangan di kawasan Timur Tengah, Kementerian Haji Jawa Timur mengimbau jemaah dan biro travel untuk memilih penerbangan langsung tanpa transit guna menjamin keselamatan dan kelancaran perjalanan ibadah.
Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Haji Jawa Timur, jumlah jemaah yang akan berangkat mengalami kenaikan signifikan dalam tiga pekan terakhir. Tiga pekan lalu, jumlahnya sekitar 1.700 jemaah, kemudian meningkat menjadi 2.500 jemaah, hingga terakhir mencapai sekitar 4.500 jemaah.
Baca juga: Kelelahan dan Penyakit Penyerta Jadi Pemicu Tingginya Angka Kematian Jemaah Haji
Sebaliknya, jumlah jemaah yang kembali ke tanah air justru mengalami penurunan. Dari sekitar 9.200 jemaah tiga pekan lalu, turun menjadi 7.600 jemaah, dan terbaru tercatat sekitar 4.991 jemaah.
PLT Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Jawa Timur, Mohammad As'adul Anam, menegaskan bahwa persoalan utama dalam perjalanan umrah saat ini terletak pada faktor penerbangan, khususnya bagi jemaah yang menggunakan skema transit.
“Umrah itu problem utamanya ada di penerbangan. Artinya kalau penerbangan ini safety, aman, maka mereka tetap on schedule, tidak ada perubahan atau reschedule,” ujar Anam, Kamis, (26/03/2026).
Ia menambahkan, penggunaan penerbangan langsung tanpa transit dinilai lebih aman dibandingkan penerbangan dengan transit di sejumlah negara Timur Tengah.
“Ketentuan maskapai yang membawa penumpang tanpa transit, seperti tidak melalui Abu Dhabi, Doha, atau Muscat, saya yakin mereka aman. Seperti Maskapai Garuda, Saudi Air, dan Lion, sampai saat ini masih on schedule,” jelasnya.
Menurutnya, maskapai yang menggunakan rute langsung dari Indonesia seperti Jakarta, Bali, maupun Surabaya menuju Jeddah cenderung tidak mengalami kendala berarti. Namun, kondisi berbeda dialami jemaah yang menggunakan penerbangan transit. Ia mengungkapkan adanya kasus jemaah yang tertahan di luar negeri akibat terganggunya operasional penerbangan di negara transit.
Baca juga: PPIH Debarkasi Surabaya Berikan Layanan Khusus bagi Jemaah Lansia dan Pengguna Kursi Roda
“Kalau yang tertahan itu mereka yang mengambil penerbangan tidak direct atau transit. Bahkan ada jemaah yang harus kembali ke Jeddah lalu membeli tiket baru ke Indonesia agar bisa pulang,” ungkapnya.
Dalam beberapa kasus lain, jemaah bahkan harus melanjutkan perjalanan melalui jalur darat dengan biaya yang tidak sedikit.
“Ada juga yang saat puncak eskalasi tidak mendapatkan penerbangan, akhirnya menggunakan jalur darat sampai menghabiskan puluhan juta rupiah,” tambahnya.
Pihaknya pun mengingatkan biro travel penyelenggara ibadah umrah agar lebih memperhatikan kondisi terkini di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi eskalasi yang dapat memengaruhi perjalanan jemaah.
Baca juga: Cerita Tenaga Kesehatan Haji RS al-Irsyad Surabaya, dari Keterlambatan Visa Hingga ikut Ibadah
“Kami berharap biro travel jangan hanya berorientasi pada keberangkatan. Aspek keamanan jemaah harus benar-benar diperhatikan. Kalau kondisinya berisiko tinggi, sebaiknya ditunda saja,” tegasnya.
Kementerian Haji Jawa Timur juga mengimbau calon jemaah untuk lebih selektif dalam memilih paket perjalanan, khususnya dengan memastikan rute penerbangan yang digunakan adalah penerbangan langsung demi menghindari risiko keterlambatan maupun penundaan perjalanan. (KF)
Editor : Redaksi