Konferda DPD GMNI Jatim di Nganjuk Berujung Ricuh

avatar potretkota.com
Ricuh Konferda DPD GMNI Jatim.
Ricuh Konferda DPD GMNI Jatim.

Potretkota.com - Gelaran Konferensi Daerah (Konferda) DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur versi Risyad Fahlefi yang berlangsung di Kabupaten Nganjuk pada Minggu (6/9/2026) berujung ricuh. 

Dinamika persidangan yang memanas diwarnai aksi kekerasan, dugaan money politics, hingga bentuk intervensi sistematis dari berbagai pihak.

Baca Juga: Kudatuli Menjadi Pengingat Bahaya Penyalahgunaan Kekuasaan

Kericuhan di ruang sidang tak terhindarkan usai terjadi aksi pelemparan kursi dan gelas, hingga pecahan lampu mengotori area persidangan. Insiden tersebut mengakibatkan delegasi peserta Konferda asal Cabang Jember mengalami luka fisik. Selain aksi kekerasan, peserta yang kritis dalam forum tersebut juga dilaporkan mengalami tindakan intimidasi serta persekusi yang diduga dilakukan oleh panitia lokal bersama sejumlah oknum cabang.

Akar ketegangan berawal dari gelombang protes para peserta yang kritis terhadap maraknya keberadaan cabang-cabang diduga bermasalah mulai dari cabang tanpa Surat Keputusan (SK) sah, cabang siluman, hingga cabang dualisme hasil bentukan Pasca-Kongres sebelumnya yang dipaksakan masuk.

Baca Juga: GMNI Jember Soroti Potensi Koperasi Desa Merah Putih Jadi Jaringan Politik di Desa

Di sisi lain, proses penentuan kepemimpinan ini diwarnai isu arus dana gelap. Diduga terdapat suntikan dana dari pihak penyokong (bohir) sebesar Rp5 juta per cabang yang disalurkan melalui calotiket demi mengondisikan suara dan memenangkan salah satu pasangan calon di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.

Suhu politik di internal organisasi kian memanas akibat tingginya preses atau intervensi dari para penyelenggara Pemilu di tingkat kabupaten/kota (KPU dan Bawaslu) di Jawa Timur. Oknum penyelenggara tersebut diduga memberi perintah penyelenggara di tingkat kabupaten/kota untuk melakukan penekanan terhadap pengurus cabang  GMNI di daerah asal mereka, sehingga memicu rasa terintimidasi para pengurus DPC GMNI.

Baca Juga: BEM Nusantara Membersamai Aksi Rakyat Surabaya Menggugat

Kondisi ini diperparah oleh kuatnya intervensi langsung dari jajaran DPP GMNI versi Risyad Fahlefi dan Eks Sekjen DPP GMNI Dendy yang dinilai aktif mengalihkan suara serta menginfiltrasi jalannya persidangan demi mengamankan kepentingan kelompok tertentu, dengan besarnya pengaruh intervensi dari DPP Risyad Fahlefi dan Eks Sekjen DPP GMNI Dendy ini juga menyebabkan pengurus di tingkat cabang pun menjadi gelisah, karena adanya dugaan bagi-bagi uang dari bohir 5 juta tersebut.

Hal ini harus menjadi atensi keras, khususnya Pimpinan DPP Risyad Fahlefi dan pengurusnya juga dan Eks Sekjen DPP GMNI Dendy yang ikut mengatur jalannya catur politik sebelum dan pasca deadlock untuk tidak mengintervensi secara kuat maupun mengilfiltrasi proses berjalannya persidangan di proses perhelatan Konferda ini. (*)

Berita Terbaru