RSUD Eka Candrarini Buka Suara Soal Ribuan Limbah Medis Dibuang Ngawur di Exit Tol Tambaksumur

potretkota.com
limbah medis terekam sosial media.

Potretkota.com - Temuan ribuan limbah medis yang dibuang di sebuah selokan kawasan Exit Tol Tambaksumur, Sidoarjo, Jawa Timur, viral di media sosial. Limbah tersebut antara lain berupa jarum suntik bekas, vial obat, dan kantong obat yang mencantumkan logo RSUD Eka Candrarini Surabaya.

Atas temuan tersebut, pihak RSUD Eka Candrarini membantah dugaan tersebut. Rumah sakit menyatakan telah melakukan pengecekan terhadap sejumlah sampel limbah yang ditemukan di lokasi.

Baca juga: Dimas Aryo Basuki Diputus Hukuman Pidana 10 Bulan Penjara

Ketua Tim Kerja Penunjang Non-Medik RSUD Eka Candrarini Surabaya, Wuri Handayani, mengatakan sampel berupa jarum suntik dan vial obat telah diperiksa dan dicocokkan dengan produk yang digunakan di rumah sakit.

“Pihak rumah sakit mengambil sejumlah sampel dari lokasi untuk dilakukan pengecekan dan pencocokan dengan peralatan serta obat yang digunakan di rumah sakit,” ujar Wuri.

Berdasarkan hasil pengecekan, kata Wuri, jarum suntik dan vial obat yang ditemukan tidak sesuai dengan produk yang digunakan RSUD Eka Candrarini.

Salah satu perbedaannya terdapat pada merek jarum suntik. Menurut Wuri, rumah sakit menggunakan jarum suntik bermerek Nipro, sedangkan jarum suntik yang ditemukan di lokasi memiliki merek berbeda.

“Jarum suntik yang digunakan di RSUD Eka Candrarini bermerek Nipro, sedangkan jarum suntik yang ditemukan di lokasi memiliki merek berbeda,” jelasnya.

Selain itu, di lokasi ditemukan banyak jarum suntik bekas yang telah ditutup kembali atau melalui proses re-capping. Wuri menegaskan, prosedur tersebut tidak diterapkan dalam pengelolaan jarum suntik bekas di RSUD Eka Candrarini.

“Kami tidak menerapkan prosedur re-capping. Setiap jarum suntik bekas langsung dimasukkan ke dalam safety box,” ujarnya.

Temuan lainnya berupa vial obat KB Cyclofem. Pihak RSUD Eka Candrarini memastikan rumah sakit tidak menggunakan maupun menyediakan obat tersebut. “RSUD Eka Candrarini tidak menggunakan atau menyediakan obat KB Cyclofem,” kata Wuri.

Sementara untuk antibiotik Ceftriaxone yang ditemukan di lokasi, Wuri mengatakan produk yang digunakan RSUD Eka Candrarini berasal dari produsen PT Dexa Medica. “Untuk Ceftriaxone yang kami gunakan, produk tersebut berasal dari produsen PT Dexa Medica,” jelasnya.

Pengelolaan Limbah B3

Wuri menjelaskan, RSUD Eka Candrarini memiliki kerja sama resmi dengan PT Wastec International untuk pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Baca juga: Korupsi Tambang Ponorogo, Advokat Nilai Saksi Tak Konsisten

Kerja sama tersebut berlaku sejak 2 Januari 2026 hingga Desember 2026. Pengambilan limbah dilakukan secara rutin setiap dua hari sekali.

“Untuk pengelolaan limbah B3, RSUD Eka Candrarini telah memiliki kerja sama resmi dengan PT Wastec International,” ujar Wuri.

“Kerja sama tersebut berlaku sejak 2 Januari 2026 hingga Desember 2026, dengan pengambilan limbah secara rutin setiap dua hari sekali,” lanjutnya.

Dengan mekanisme tersebut, pihak rumah sakit menegaskan limbah medis yang berasal dari aktivitas operasional RSUD Eka Candrarini dikelola melalui pihak pengelola yang telah bekerja sama secara resmi.

Kantong Obat Berlogo RSUD Eka Candrarini

Meski membantah limbah medis tersebut berasal dari operasional rumah sakit, RSUD Eka Candrarini mengakui kantong obat berlogo rumah sakit yang ditemukan di lokasi memang digunakan oleh pihaknya.

Wuri menjelaskan, kantong tersebut diberikan kepada pasien rawat jalan dan pasien farmasi sebagai pengganti kantong plastik.

Baca juga: Peran Pengembang Disoal Dalam Sidang Korupsi Tanah Mulyodadi

“Kantong obat berlogo RSUD Eka Candrarini memang diberikan kepada pasien rawat jalan dan pasien farmasi sebagai pengganti kantong plastik,” katanya.

Namun, kantong tersebut dibawa pulang oleh pasien. Karena itu, pihak rumah sakit menilai keberadaan kantong berlogo c di lokasi pembuangan tidak serta-merta membuktikan bahwa limbah medis tersebut berasal dari operasional rumah sakit.

“Kantong tersebut dibawa pulang oleh pasien. Sehingga penemuannya di lokasi tidak bisa langsung dikaitkan dengan limbah operasional rumah sakit,” jelas Wuri.

Terkait temuan yang viral tersebut, pihak RSUD Eka Candrarini menyatakan masih menunggu arahan lebih lanjut dari Wali Kota Surabaya.

“Kami masih menunggu arahan lebih lanjut dari Wali Kota Surabaya terkait temuan tersebut,” ujar Wuri.

Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menindaklanjuti temuan limbah medis di kawasan Exit Tol Tambaksumur, Sidoarjo. (KF)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru