Potretkota.com - Dianggap meninggal dunia karena Covid-19, Ari Winiarsih warga Bulak Rukem II K, Kecamatan Bulak Kota Surabaya, dimakamkan di Keputih, Minggu (31/5/2020). Tidak berakhir disini, setelah meninggalnya perempuan 54 tahun ini, nasib kedua anaknya yaitu Akbar dan Farid merasa dikucilkan oleh warga sekitar. Kedua bagaikan burung yang didalam sangkar, tidak boleh keluar rumah dan dikirimi makanan oleh warga sekitar secara bergantian.
"Saya engga bisa mikir mas, setelah ditinggal ibu, malah seperti ini, pikiran kacau dan merasa tertekan engga bisa apa-apa didalam rumah. Padahal ibu punya riwayat sakit lambung. Dan saya yakin meninggal karena lambung bukan Corona. Sampai saat ini hasil lab dari rumah sakit juga belum keluar, antara positif dan negatifnya," kata Akbar, kepada Potretkota.com, Senin (1/6/2020).
Baca Juga: Pembayaran 16 Ribu Pasien SKTM RSUD dr Ishak Disunat
Ditempat yang sama, Taufik Monyong waga sekitar yang juga pemerhati sosial sangat prihatin dengan apa yang dirasakan kakak beradik tersebut. "Belum lagi ia juga dikucilkan, artinya tidak ada orang yang berani mendekatinya. Sementara orang nyelawat (ziarah) juga ga ada karena terlalu paniknya dan rasa ketakutan gara-gara informasi yang gak jelas," katanya.
Taufik Monyong saat dikediaman Akbar dan Farid juga heran atas sikap pemerintah, karena baginya keduanya tidak butuh semprotan disinfektan tiap hari, tapi yang di butuhkan adalah beras, sembako, bantuan tunai. "Kalau seperti ini, mereka bisa sakit gara-gara pikiran kacau, merasa tertekan, harus disuruh tinggal dirumah," tambahnya.
Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) ini juga berani diuji dengan 200 orang yang dinyatakan positif Covid-19 tentu dengan syarat. "Kalau memang pembuktiannya itu benar bahwa virus itu tidak ada, saya minta Surabaya, Jawa Timur dihentikan aturan PSBB dan Lockdown. Kita ikuti progam presiden Jokowi dengan New Normal," ujarnya.
Senada, Cindy salah satu warga sekitar juga yakin bahwa bu Ari bukan meninggal karena Corona, namun meninggal karena sakit riwayatnya yaitu lambung. "Hampir semua warga tau, bu Ari punya riwayat sakit lambung. Saya ga yakin kalau Covid-19," urainya.
Baca Juga: Cegah Superflu, Warga Surabaya Vaksinasi Sebelum ke Luar Negeri
BACA JUGA: Stigma Negatif ODP Bisa Picu Depresi Masyarakat
Sementara, Ketua RT 02, RW VII Bulak Surabaya, Bu Imron mengatakan bahwa semenjak bu Ari meninggal, Akbar dan Farid menjalani karantina mandiri, sesuai arahan dari Puskesmas.
"Keduanya menjalani karantina mandiri dirumahnya, dan selama ini yang bantu Akbar dan Farid adalah warga yang secara bergantian mengirimi makanan dipagar depan rumah. Yang akan nantinya diambil oleh keduanya. Bantuan dari pemerintah belum ada," aku Bu Imron, saat ditemui Potretkota.com.
Baca Juga: Tanpa Koordinasi dan Kompensasi, Tiang Wifi di Pasuruan Tetap Berdiri
Menurut Bu RT, almarhum awalnya dibawa kerumah sakit Kapasari, dari sana kemudian dirujuk ke RSUD Dr Soetomo. "Pada hari minggu sekitar jam 03.30 wib (pagi) meninggal dan dimakamkan ke Keputih. Didalam periksaan Rapid Test menurut rumah sakit, bu Ari positif. Tapi kita masih belum tau positif apa?" ungkapnya.
Karena itu, disebut bu RT warga salah mengartikan. "Mungkin dengan info itu ada orang yang salah paham, dikira positif Covid-19. Dan sampai saat ini hasil test swab bu Ari belum keluar," pungkasnya. (SA)
Editor : Redaksi