Potretkota.com - Telatnya kedatangan atau sandarnya kapal pengiriman barang yang mengangkut bawang putih dari China, bakal jadi penyebab kelangkaan bawang putih dan naiknya kembali harga. Hal tersebut diungkap Heri Tio, broker bawang putih asal Surabaya, Senin, (22/04/2024).
Kapal pengangkut bawang putih dari China seharusnya datang pada tanggal 21 April 2024, namun kapal-kapal itu mengalami perubahan jadwal untuk sandar di Surabaya, yakni sampai dengan tanggal 25 April 2024. Sehingga, bawang putih akan sulit didapat selama beberapa hari dan harganya bakal tinggi.
Baca Juga: Putusan Narkoba Irwan Santoso Masuk RSJ Tuai Kritik Masyarakat
Berita terkait: Broker Bongkar Permainan Harga Bawang Putih Impor
“Terutama (jenis) cuting, sudah menginjak Rp35.000 hari ini. Jadi hari Sabtu kemarin, cuting itu masih Rp32.500 sampai dengan Rp33.000, hari ini sudah Rp35.000 per kilo. Dolar itu tidak terlalu seberapa dampak sih, selisihnya kan cuma Rp300 sampai Rp400, yang dampak adalah kekosongan ini saja,” kata Heri.
Di tahun 2024 ini, kuota impor bawang putih hanya diperoleh oleh 38 perusahaan PT (Perseroan Terbatas). Dari 38 PT itu, menurut Heri, kuota impor bawang putih dimainkan hanya beberapa orang saja. Sehingga, untuk perusahaan kecil seperti para broker, tidak mendapat jatah kuota impor.
Baca Juga: Jaksa dan Hakim di PN Surabaya Sepakat Importir Narkoba Dibawa ke Rumah Sakit Jiwa 6 Bulan
Berita terkait: Negara Rugi Hingga 5,2 Triliun Akibat Permainan Harga Bawang Putih
“Kuota ini hanya dipegang sama orang yang besar-besar tok, PT nya banyak, sangat banyak 38. Kemendag ini, belakangan ini tidak hadir kalau menurut saya, karena yang kecil-kecil ini tidak dikasih kuota, jadi sekarang kita ini sebagai broker bukan sebagai importir,” jelas Heri di ruang kerjanya.
Baca Juga: Sekelompok Preman Intimidasi Demonstran Mafia Bawang Putih
Ketidakhadiran Kemendag menurut Heri lagi, ialah tidak bisanya mengendalikan harga dan menjamin ketersediaan stok bawang putih. Kemendag seolah melakukan pembiaran terhadap importir yang mengambil keuntungan tinggi, sedangkan bagi broker dan pengecer, tetap dengan keuntungan kecil.
“Jadi broker ini dibatasi keuntungannya cuma antara 250 sampai 500 rupiah, sedangkan importir keuntungannya Rp6.000 sampai Rp8.000. Keuntungannya dari importir ini keuntungan yang sangat luar biasa, apakah ada permainan dari Kemendag atau permainan dari importir?” tandas Heri dengan heran. (ASB)
Editor : Redaksi