Potretkota.com - Di tengah persaingan yang semakin ketat di lingkungan perguruan tinggi, saya, Ni Kadek Ayu Wardani, berusaha membuktikan bahwa mahasiswa mampu menyelaraskan prestasi akademik dengan keterlibatan aktif dalam organisasi pergerakan.
Sebagai pemimpin organisasi mahasiswa, saya terlibat dalam diskusi mendalam, advokasi berbagai isu sosial, serta kegiatan di lapangan, namun tetap dapat menjaga komitmen penuh terhadap tanggung jawab perkuliahan.
Baca Juga: Negara Melawan Entropi Agraria
Pandangan yang masih banyak dianut menyatakan bahwa mahasiswa yang intens terlibat dalam organisasi pergerakan—dengan segala tuntutan waktu dan energi—akan kesulitan mengatur prioritas, sehingga berpotensi mengalami penurunan prestasi akademik atau keterlambatan kelulusan. Pengalaman saya sendiri menunjukkan hal sebaliknya.
Dengan pengelolaan waktu yang disiplin, komitmen belajar yang konsisten, serta dedikasi dalam melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan, saya berhasil menyelesaikan kewajiban akademik dengan baik tanpa mengesampingkan peran sebagai aktivis.
Perjalanan Pendidikan dan Kiprah Organisasi
September 2021 menandai awal perjalanan saya di jenjang perguruan tinggi. Pada tahun itu, saya melanjutkan studi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Industri. Sejak awal, saya berkomitmen untuk tidak hanya menekuni studi formal, tetapi juga aktif berkontribusi dalam kegiatan kemahasiswaan.
Pada tahun 2022, saya dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Unit Kegiatan Kerohanian Hindu. Jabatan ini menjadi langkah awal dalam mengasah kemampuan organisasi sekaligus memperdalam nilai-nilai spiritual dan kerohanian di lingkungan kampus.
Tahun 2023 merupakan periode paling menantang. Saya menjalankan sejumlah peran secara bersamaan: Bendahara Himpunan Mahasiswa Teknik Industri, Wakil Ketua Unit Kerohanian Hindu, Sekretaris Unit Kegiatan Mahasiswa Kebangsaan, serta anggota Divisi Kerohanian Badan Koordinasi Kegiatan. Meskipun beban tanggung jawab semakin berat, pengalaman tersebut justru melatih saya untuk lebih disiplin dalam mengelola waktu dan menentukan prioritas.
Pada tahun 2024, saya mengikuti program magang di PT Bogasari Flour Mills dan PT Kerta Rajasa Raya. Kesempatan ini tidak hanya memberikan pemahaman praktis tentang dunia industri, tetapi juga menguji kemampuan saya dalam menyeimbangkan pembelajaran di luar kampus dengan tanggung jawab organisasi yang masih saya emban.
Pada tahun 2025, saya kembali dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa di kampus. Di tahun yang sama, melalui Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXIV GMNI Surabaya Raya, saya terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Surabaya Raya untuk masa bakti 2025–2027.
Jabatan ini menjadi puncak tanggung jawab organisasi saya hingga kini, sekaligus memperdalam pemahaman saya tentang kepemimpinan yang inklusif, berbasis massa, dan berorientasi pada kepentingan rakyat serta ideologi Marhaenisme.
Organisasi sebagai Wadah Pembentukan Karakter dan Pengabdian
Bagi saya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau berdebat, melainkan ruang pembentukan karakter yang sangat berharga. Di dalamnya, mahasiswa belajar memimpin dengan bijaksana, menanggung tanggung jawab secara penuh, mengasah keterampilan komunikasi, menyelesaikan konflik secara konstruktif, serta mengembangkan kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial.
Saya sering menyampaikan kepada rekan-rekan mahasiswa bahwa keterlibatan dalam organisasi tidak perlu dihindari hanya karena kekhawatiran tertinggal dalam perkuliahan. Pengalaman di luar ruang kelas justru memberikan pembelajaran menyeluruh yang melengkapi pengetahuan akademik. Khususnya dalam organisasi pergerakan dan kegiatan kemahasiswaan, kita diajak untuk tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga mewujudkan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Baca Juga: Harta Tahta Fujika Senna Oktavia
Menanggapi Kekhawatiran Keluarga
Saya memahami sepenuhnya kekhawatiran yang kerap muncul dari keluarga ketika anaknya terlalu aktif dalam kegiatan organisasi. Kekhawatiran akan keterlambatan kelulusan adalah hal yang wajar, mengingat harapan setiap orang tua agar anak menyelesaikan studi tepat waktu dan memiliki masa depan yang cerah.
Namun, saya meyakini bahwa masa perkuliahan merupakan fase emas yang tidak terulang. Pada periode ini, mahasiswa membentuk jati diri menjadi individu yang lebih dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab. Keterlibatan dalam organisasi memberikan pengalaman berharga yang sulit diperoleh di tempat lain, seperti kemampuan berbicara di depan umum, memimpin kelompok, membangun jaringan, serta memahami dinamika sosial secara mendalam. Semua itu menjadi bekal penting bagi kehidupan setelah lulus.
Tekad Ideologis: Melanjutkan Studi Pascasarjana sebagai Tanggung Jawab Kader
Sebagai kader GMNI, saya memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 segera setelah menyelesaikan studi sarjana. Tekad ini bukan sekadar cita-cita pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab ideologis yang harus diemban. Saya berkeinginan menjadi dosen atau akademisi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan melalui ranah intelektual, penelitian, dan pendidikan.
Marhaenisme, sebagai ideologi dasar GMNI, harus terus hidup dan dihidupkan dalam setiap sendi kehidupan kader. Marhaenisme bukanlah warisan masa lalu semata; ia merupakan komitmen abadi untuk mengangkat derajat rakyat kecil, marhaen Indonesia.
Anamah penderitaan rakyat—suara keluh kesah, tangisan, dan perjuangan kaum tertindas—itulah yang menjadi sumber keteguhan hati saya. Setiap kali menyaksikan ketimpangan, ketidakadilan, dan penderitaan yang masih merajalela, keyakinan saya semakin kuat bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti pada bangku kuliah atau organisasi kampus. Perjuangan tersebut harus dilanjutkan melalui kontribusi yang lebih mendalam, termasuk di ranah akademik, agar ideologi Marhaenisme tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.
Baca Juga: Davos 2026: Dunia Tanpa Aturan dan Normalisasi Kekuasaan
Keselarasan antara Aktivisme dan Prestasi Akademik
Pengalaman saya menjadi bukti bahwa aktivisme dan prestasi akademik dapat berjalan secara selaras. Organisasi bukan penghalang, melainkan ruang pembelajaran tambahan yang memperkaya wawasan dan memperkuat ketahanan mental.
Kunci utama keberhasilan terletak pada komitmen yang teguh dan pengelolaan waktu yang efektif. Apabila kedua aspek ini dijaga dengan baik, aktivitas akademik dan organisasi tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain.
Pada akhirnya, pesan yang ingin saya sampaikan sederhana namun mendalam: janganlah takut untuk berproses. Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Organisasi merupakan wadah pembelajaran yang memperluas cakrawala pandang. Segala pengalaman yang diperoleh hari ini akan menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan yang lebih bermakna di masa mendatang—termasuk dalam mewujudkan cita-cita ideologis sebagai kader GMNI.
Saya telah membuktikan bahwa seorang aktivis juga dapat meraih prestasi akademik yang membanggakan. Kini, giliran rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk melangkah dengan keyakinan yang sama, dengan Marhaenisme sebagai api yang tak pernah padam di dada. (*)
Editor : Redaksi