Potretkota.com - Suasana di Gereja Katolik Santo Vincentius a Paulo, Surabaya, terasa berbeda. Hening, khidmat, sekaligus sarat emosi. Ratusan umat Katolik berkumpul, mengikuti satu per satu adegan yang menggambarkan perjalanan penderitaan Yesus Kristus dalam visualisasi Jalan Salib, Jumat (3/4/2026).
Langkah demi langkah prosesi berjalan perlahan. Dari pengadilan oleh Pontius Pilatus, perjalanan memanggul salib, hingga detik-detik wafat dan pemakaman Yesus, seluruhnya ditampilkan dengan penuh penghayatan. Empat belas pemberhentian dilalui, menjadi simbol napak tilas kisah sengsara yang telah mengakar dalam tradisi iman Katolik.
Baca Juga: Paldam V Brawijaya Bagi Oli Gratis untuk 500 Pengemudi Ojek Online
Di antara kerumunan, beberapa umat tampak tak kuasa menahan haru. Air mata mengalir, menyatu dengan doa-doa yang lirih terucap. Visualisasi yang berlangsung sekitar satu jam itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan batin yang mendalam.
Inneke, salah satu umat yang hadir, mengaku selalu tersentuh setiap mengikuti Jalan Salib. Baginya, setiap adegan menghadirkan pengingat akan makna pengorbanan dan kasih.
“Setiap melihat adegan Jalan Salib, saya selalu terharu dan merasa diingatkan untuk lebih sabar dan berbuat baik kepada sesama,” ujar Inneke.
Sekitar 100 umat terlibat dalam visualisasi tahun ini. Mereka mempersiapkan setiap detail adegan dengan sungguh-sungguh, demi menghadirkan pesan spiritual yang kuat. Bukan hanya akting, tetapi juga penghayatan yang menjembatani kisah ribuan tahun lalu dengan kehidupan umat masa kini.
Baca Juga: Lapak Kurban Tarik Pembeli dengan Bonus Boneka Domba
Sutradara visualisasi, Reggina Bela Halim, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendalaman iman, bukan sekadar pementasan.
“Kami berharap visualisasi ini dapat membawa umat pada semangat berkorban seperti teladan Yesus di kayu salib, sekaligus mendorong pertobatan dan kepedulian terhadap sesama,” tambah Reggina Bela Halim.
Jalan Salib sendiri menjadi salah satu ibadat penting dalam masa Pra Paskah. Tradisi ini umumnya dilaksanakan setiap hari Jumat, sebagai bentuk mengenang wafatnya Yesus Kristus. Ia juga menjadi bagian dari rangkaian Tri Hari Suci—Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci—yang berpuncak pada perayaan Minggu Paskah, hari kebangkitan.
Baca Juga: Polres Pasuruan Sterilisasi Gereja dan Tingkatkan Pengamanan
Lebih dari sekadar ritual, Jalan Salib menghadirkan ruang refleksi. Di tengah kehidupan yang serba cepat, prosesi ini mengajak umat untuk berhenti sejenak, menengok kembali makna pengorbanan, serta menumbuhkan empati dalam kehidupan sehari-hari.
Di Gereja Santo Vincentius a Paulo pagi itu, air mata yang jatuh bukan sekadar ungkapan kesedihan. Ia menjadi simbol iman—tentang kasih, pengorbanan, dan harapan yang terus hidup di hati umat. (KF)
Editor : Redaksi