Potretkota.com – Di tengah meningkatnya kebutuhan susu nasional, peternak sapi perah rakyat masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Mulai dari mahalnya pakan, terbatasnya pasokan hijauan ternak, hingga ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sewaktu-waktu dapat melumpuhkan produksi susu.
Baca Juga: YTC Malang Raih Juara di Track Piala Gubernur Jawa Timur 2026
Hariyanto, peternak sapi perah asal Desa Ngabab, Pujon, Kabupaten Malang, mengatakan kendala terbesar dalam usaha peternakan sapi perah saat ini adalah ketersediaan pakan. Menurutnya, kualitas dan kuantitas pakan sangat menentukan hasil produksi susu setiap harinya.
“Kalau kurang pakan, susunya bisa surut. Intinya makannya harus kenyang, campurannya juga harus banyak supaya hasil susunya banyak dan kualitasnya bagus,” ujar Hariyanto saat ditemui di kandang sapinya, Minggu lalu, (05/04/2026).
Untuk menekan biaya operasional, sebagian peternak memanfaatkan komoditas pertanian murah seperti wortel sebagai campuran pakan ketika harga pasar sedang turun drastis.
Namun, kondisi tersebut dinilai menunjukkan rapuhnya sistem ketahanan pakan peternak sapi perah rakyat.
Selain persoalan pakan, ancaman penyakit mulut dan kuku juga masih menjadi momok serius bagi peternak. Hariyanto menyebut PMK dapat berdampak besar terhadap kesehatan ternak sekaligus menurunkan produksi susu secara signifikan.
Baca Juga: Majelis Hakim Tipikor Surabaya Putus Kartika Samsuadi 2 Tahun, Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa
“Kalau sapi kena PMK, ngilernya banyak, makan enggak nafsu, minum juga enggak mau. Akhirnya susu yang keluar sedikit,” katanya.
Menurutnya, dalam kasus yang lebih parah, PMK dapat menyerang bagian ambing hingga membuat produksi susu berhenti total.
“Kalau pentilnya mati, ya susunya enggak keluar lagi,” tambahnya.
Ironisnya, di tengah ancaman penyakit tersebut, sebagian peternak masih mengandalkan pengobatan tradisional sebagai langkah awal penanganan karena keterbatasan akses layanan kesehatan hewan.
Baca Juga: Korupsi Pengadaan Tanah, Eks Direktur Polinema Diputus 2 Tahun
Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa modernisasi sektor peternakan rakyat belum sepenuhnya menyentuh persoalan paling mendasar di lapangan.
Jika persoalan pakan dan kesehatan ternak tidak segera dibenahi, ketergantungan Indonesia terhadap susu impor dikhawatirkan akan terus berlanjut, sementara peternak lokal tetap berjibaku dengan berbagai keterbatasan. (ASB)
Editor : Redaksi