Potretkota.com - Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar gas untuk kebutuhan memasak, sebuah inovasi sederhana lahir dari Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Di tangan seorang warga bernama Adi Hoteli, limbah minyak goreng bekas penggorengan yang selama ini dianggap tidak bernilai berhasil diubah menjadi bahan bakar alternatif untuk kompor rumah tangga.
Inovasi tersebut mulai dikembangkan sejak 2023. Adi mengaku perjalanan menciptakan kompor berbahan bakar minyak jelantah tidak langsung menghasilkan alat yang sempurna. Berbagai percobaan dilakukan hingga menemukan desain kompor yang mampu menghasilkan api stabil dan cukup untuk aktivitas memasak sehari-hari.
Baca juga: Bunga Telang, Maskot Sekargadung Kota Pasuruan
"Pertama tahun 2023 kompor saya buat dengan menggunakan sumbu dari kain bekas dan bahan bakar minyak goreng bekas. Namun hasilnya belum maksimal. Kemudian kami sempurnakan dengan menggunakan bantuan dorongan angin dari kipas kecil untuk membantu proses pembakaran di dalam kompor," ujar Adi Hoteli, Kamis (6/8/2026).
Dalam proses pembuatannya, Adi memanfaatkan berbagai material bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Ia merakit kompor menggunakan teflon bekas tempat menanak nasi yang dimodifikasi sebagai ruang pembakaran. Sementara sistem pengatur udara memanfaatkan blower dari mesin printer bekas untuk membantu proses pembakaran agar api lebih optimal.
Bahan bakar yang digunakan berasal dari minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang dikumpulkan melalui bank sampah dari warga sekitar. Limbah rumah tangga yang sebelumnya hanya menjadi buangan kini memiliki nilai guna sebagai sumber energi alternatif.
"Bahan bakar minyak goreng bekas ini berasal dari bank sampah yang disetorkan oleh warga sekitar," jelas Adi, warga RT 1 RW 1 Kelurahan Kepel.
Lurah Kepel Jaya Denardi menyebut inovasi tersebut sebagai bentuk penerapan teknologi tepat guna yang mampu mengubah limbah menjadi energi bernilai ekonomi. Menurutnya, kompor minyak jelantah ini memiliki sejumlah keunggulan, terutama dari sisi efisiensi dan keberlanjutan.
Baca juga: Aroma Jamu Rempah Tembokrejo Menembus Kota Wisata Batu
"Kompor ini merupakan implementasi teknologi tepat guna yang mengonversi limbah minyak goreng bekas menjadi energi termal yang bernilai ekonomis," kata Jaya Denardi.
Ia menjelaskan, satu liter minyak jelantah dapat digunakan untuk memasak selama kurang lebih tiga hingga empat jam. Selain mengurangi limbah rumah tangga, inovasi tersebut juga memberikan peluang pemanfaatan ekonomi dari bahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai.
Selain efisien, kompor hasil karya warga Kelurahan Kepel ini juga dirancang agar mudah digunakan oleh masyarakat. Bentuknya yang ergonomis dan portabel membuatnya dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Baca juga: Manula Pasuruan Sulap Limbah TV LED Menjadi Cahaya Lampu Hias
"Desainnya ergonomis, portabel, dan mudah dioperasikan oleh semua kalangan tanpa keahlian khusus. Ini dapat menjadi solusi kemandirian energi di tingkat rumah tangga dan UMKM di tengah fluktuasi harga bahan bakar seperti gas," tambahnya.
Karya sederhana dari Kelurahan Kepel ini menjadi contoh bagaimana kreativitas warga mampu menghadirkan solusi atas persoalan lingkungan sekaligus kebutuhan energi. Inovasi tersebut diharapkan terus dikembangkan dan mendapat dukungan dari pemerintah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
"Inovasi dan keunggulan warga Kelurahan Kepel RT 1 RW 1 ini patut diapresiasi dan didorong kemajuannya oleh Pemerintah Kota Pasuruan," pungkas Jaya Denardi. (dyt)
Editor : Redaksi