Potretkota.com - Indonesia memiliki laut yang luas, tetapi tantangannya kini bukan sekadar bagaimana memanfaatkan sumber daya laut, melainkan bagaimana membangun teknologi dan industri yang mampu menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja.
Hal itu disampaikan Ali Yusa, anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur sekaligus inisiator Jurusan Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik (TEKPAL UMG). Menurutnya, kebutuhan teknologi maritim semakin besar, mulai dari inspeksi kapal dan pelabuhan, pengawasan infrastruktur lepas pantai, industri energi, hingga penelitian bawah air.
Baca juga: LLDIKTI Wilayah VII Telaah Perkara Gelar Anggota DPRD Bojonegoro
Salah satu peluangnya adalah pengembangan robot bawah air seperti Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV).
"Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan dibutuhkan. Industri akan menciptakan permintaannya. Pertanyaannya, apakah Indonesia hanya menjadi pengguna atau mampu merancang, membuat, mengoperasikan, memperbaiki, dan mengembangkan teknologinya sendiri," ujar Ali Yusa, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, pengembangan ROV juga membuka ruang baru bagi pendidikan teknik perkapalan. Teknologi tersebut membutuhkan integrasi struktur kapal, mesin, elektro, sensor, komunikasi, pemrograman, hingga robotika.
"Perkapalan memberikan tubuhnya, mesin memberikan tenaganya, elektro memberikan sistem kelistrikannya, informatika memberikan logikanya, dan robotika mengintegrasikan semuanya," katanya.
Pengalaman mahasiswa TEKPAL UMG, lanjut Ali, menunjukkan arah tersebut. Mahasiswa telah tiga kali mengikuti kompetisi teknologi maritim KEMENDIKTISAINTEK dan selalu lolos, termasuk dua kali pada Kontes Kapal Tak Berawak Indonesia (KKTI) serta Kontes Kapal Indonesia (KKI) Bengkalis-Riau 2026 yang kini memasuki tahap final.
Baca juga: Sukur Priyanto DPRD Bojonegoro Klaim Gelar Akademik D3 ke S1 Tak Linier Cuma Setahun Tetap Sah
Ia menilai pendidikan tinggi perlu bergerak dari sekadar menyiapkan lulusan untuk mencari pekerjaan menjadi pencipta inovasi dan ruang kerja baru.
Pengembangan robotika maritim juga memiliki efek ekonomi berantai. Ketika industri membutuhkan inspeksi bawah air, muncul kebutuhan ROV, operator, teknisi, engineer, programmer, ahli elektronika, analis data, hingga tenaga pemeliharaan.
"Masalah melahirkan riset, riset melahirkan prototipe, pasar memberikan umpan balik, dan teknologi yang matang menciptakan nilai ekonomi. Inilah hilirisasi yang sesungguhnya," jelas Ali Yusa,
Baca juga: Menyoal Kerja Sama HGI dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim
Jawa Timur dinilai memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem tersebut melalui kawasan industri dan maritim Gresik, Lamongan, Tuban, hingga Bojonegoro.
Menurut Ali Yusa, kampus perlu menjadi living laboratory yang mengembangkan teknologi berdasarkan persoalan nyata industri. "Indonesia memiliki laut yang luas, persoalan yang nyata, dan pasar yang besar. Tugas kita adalah menghubungkan ketiganya," tegasnya.
Bagi Ali Yusa, kemandirian maritim bukan sekadar memiliki kapal, tetapi memiliki SDM yang mampu mengembangkan teknologi, industri yang mampu menggunakannya, dan pasar yang mampu menghidupkan ekosistem. Dari situlah nilai tambah dan pekerjaan baru bagi generasi terdidik dapat tumbuh. (Hyu)
Editor : Redaksi