Potretkota.com – Menjadi petugas kesehatan haji bukan sekadar kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci. Bagi Firil Candra, Supervisor Ruang Hemodialisa RS Al-Irsyad Surabaya, tugas tersebut merupakan amanah kemanusiaan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam dialog bersama Potret Kota, Firil menceritakan pengalaman saat terpilih menjadi Tenaga Kesehatan Haji (TKH) pada musim haji 2025. Ia menegaskan bahwa niat utama seorang petugas haji haruslah melayani jamaah, bukan mengejar kesempatan berhaji.
Baca juga: Jamaah Haji Kloter 1 Asal Probolinggo Tiba di Surabaya
“Kalau memang kita sudah berniat menjadi petugas haji, ya azamnya dan komitmennya bertugas. Haji itu bonusnya,” ujar Firil.
Menurutnya, proses menjadi petugas kesehatan haji tidak mudah. Calon petugas harus melalui seleksi administrasi, tes wawasan kesehatan haji, bimbingan teknis, hingga wawancara. Seluruh tahapan dilakukan secara ketat untuk memastikan petugas yang terpilih memiliki kompetensi dan kesiapan menjalankan tugas.
“Ketika pendaftaran petugas kesehatan haji dibuka, kita harus mengikuti seleksi administrasi, tes wawasan, bimbingan teknis sampai wawancara. Semua dilakukan bertahap,” jelasnya.
Firil mengungkapkan, tantangan sudah dirasakan sejak sebelum keberangkatan. Saat itu, sejumlah petugas mengalami kendala visa sehingga harus terjadi pergeseran penempatan kloter secara mendadak.
“Yang kami pegang hanya empat huruf, yaitu siap. Kapan pun ditelepon, jawabannya hanya siap,” katanya.
Selama bertugas di Arab Saudi, Firil menghadapi berbagai dinamika pelayanan kesehatan jamaah. Salah satunya adalah sistem syarikah yang membuat jamaah dalam satu kloter tersebar di berbagai hotel dan sektor berbeda.
“SUB 92 waktu itu terbagi ke delapan syarikah dan sebelas hotel. Sementara petugas hanya empat orang. Jadi koordinasi dan komunikasi benar-benar menjadi kunci,” ungkapnya.
Baca juga: Jemaah Asal Sukomanunggal Pilih Jalur Mandiri untuk Berangkat Haji
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat pelayanan tetap menjadi pegangan seluruh petugas kesehatan. Firil menyebut prinsip yang selalu ditanamkan selama pembekalan adalah “jamaahku jamaahmu, jamaahmu jamaahku”.
“Tidak ada istilah ini bukan jamaah saya. Ketika ada jamaah membutuhkan pertolongan, semua petugas harus siap membantu,” tegasnya.
Ia juga menceritakan bagaimana para petugas kerap harus bergerak cepat menangani jamaah yang sakit, bahkan pada tengah malam. Koordinasi dilakukan lintas hotel dan sektor demi memastikan seluruh jamaah memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.
Menurut Firil, pengalaman menjadi petugas kesehatan haji memberikan banyak pelajaran tentang pengabdian, kerja sama, serta kesiapan menghadapi situasi yang berubah dengan cepat.
Baca juga: Naik Perahu dari NTT ke Surabaya Dampingi Ibu 91 Tahun Berhaji
Kini, sebagai alumni TKH 2025, dirinya kerap diundang untuk berbagi pengalaman kepada petugas kesehatan yang akan berangkat pada musim haji berikutnya.
“Kami berbagi pengalaman lapangan kepada teman-teman yang akan berangkat, mulai dari kondisi di Arafah, Mina, hingga bagaimana menyiapkan perbekalan kesehatan agar lebih efektif,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Firil berpesan kepada para tenaga kesehatan yang memiliki cita-cita menjadi petugas haji agar terus meningkatkan kompetensi diri dan memantaskan diri untuk menerima amanah besar tersebut.
“Kalau punya mimpi, pantaskan diri. Menjadi petugas kesehatan haji berarti kita harus memperbesar kapasitas diri dan meningkatkan kompetensi. Insyaallah kalau sudah pantas, Allah akan memberikan jalannya,” pungkasnya. (ASB)
Editor : Redaksi