Dampak Larangan Ekspor CPO

Petani Sawit di Ibu Kota Nusantara Merugi

avatar potretkota.com
Petani kelapa sawit di IKN terpaksa panen meski rugi.
Petani kelapa sawit di IKN terpaksa panen meski rugi.

Potretkota.com - Sudah hampir satu bulan terakhir, Pendapatan Asli Daerah atau PAD Desa Karang Jinawi Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menurun drastis, bahkan hingga lebih dari 50 persen. Kepala Desa Karang Jinawi, Suprapto mengatakan, penurunan PAD ini akibat menurunnya harga jual Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat tengkulak.

"Sejak diberlakukan aturan larangan ekspor CPO, harga TBS kelapa sawit di tingkat pengepul atau tengkulak, merosot tajam, karena sebelum aturan tersebut diberlakukan, harga TBS kelapa sawit mencapai 3.000 rupiah per kilogram, namun sekarang harga TBS kelapa sawit hanya 1.500 rupiah per kilogram," kata Suprapto, Senin, (16/05/2022).

Baca Juga: Ketika Usaha Mebel Meredup, Warga Krapyakrejo Menanam Harapan Lewat Wisata Sayur

Penduduk Desa Karang Jinawi sendiri hampir seluruhnya adalah petani kelapa sawit. Menurut Suprapto, desa ini memiliki area atau kebun kelapa sawit yang dikelola oleh para penduduk desa. Selama ini, sebelum ada aturan larangan ekspor CPO, PAD-nya bisa mencapai Rp20 hingga Rp35 juta per sekali panen. Tetapi sekarang PAD Desa Karang Jinawi hanya Rp15 juta per sekali panen.

Rendahnya harga TBS kelapa sawit ini, membuat penduduk Desa Karang Jinawi tak bisa berbuat banyak, lantaran harga jual TBS kelapa sawit di tingkat pengepul atau tengkulak juga ditentukan dari tinggi rendahnya permintaan perusahaan pengolahan kelapa sawit. Apalagi, Suprapto mendapat kabar bahwa perusahaan pengelola kelapa sawit akan mengurangi pasokan.

"Kami tak bisa berbuat banyak mas, karena harga ini (tbs kelapa sawit) kan merata di hampir seluruh pengepul atau tengkulak harganya sama, seluruhnya hanya 1.500 hingga 1.750 rupiah per kilogram, belum lagi katanya perusahaan pengolahan kelapa sawit juga berencana akan mengurangi pasokan, jadi ya kami ini akan semakin menderita" ungkap suprapto.

Sementara itu, salah satu petani sawit, Ruswiyanto mengaku, dampak larangan ekspor CPO telah mengakibatkan para petani sawit di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) menderita kerugian hingga jutaan rupiah, lantaran biaya yang dikeluarkan petani untuk memanen kelapa sawit tak sebanding dengan penjualan hasil panen TBS kelapa sawit.

Baca Juga: Kampung Bunga Purworejo Memanen Ketahanan Pangan

"Sejak ada larangan ekspor CPO itu, harga TBS kelapa sawit terus menurun drastis, dari yang semula masih Rp3000 per kilogram, kini menurun hanya Rp1500 aja per kilogram mas. Untuk memanen kelapa sawit ini, kami para petani membutuhkan biaya yang gak sedikit mas, karena harus sewa mobil atau dump truk, belum lagi biaya pupuknya yang saat ini harganya juga terus merangkak naik, sedangkan harga TBS kelapa sawit saat ini justru menurun drastis," akunya.

Ruswiyanto mengungkapkan, untuk sekali panen biasanya para petani kelapa sawit bisa mengantongi 7 hingga 10 juta rupiah, namun saat ini dengan rendahnya harga TBS kelapa sawit, pendapatan kami tak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan panen kelapa sawit. Pria yang bertani kelapa sawit sejak 2004 bahkan mengaku rugi.

"Dengan harga TBS kelapa sawit yang hanya 1.500 rupiah per kilogram ini, tak sebanding mas dengan biaya yang harus kami keluarkan untuk melakukan panen kelapa sawit, yang ada malah kita rugi jutaan rupiah mas," ungkapnya.

Baca Juga: Sisa Kas Cuma Rp75 Juta, Perumda Panglungan Nekat Pinjam Dagulir Bank UMKM Jatim Rp1,5 Miliar

Hal serupa juga disampaikan oleh petani kelapa sawit lainnya, Ramli. Ia menegaskan, saat ini petani tetap nekat melakukan panen kelapa sawit karena terdesak kebutuhan hidup. Meski pendapatan dari hasil panen kelapa sawit ini sebenarnya tak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Lebih-lebih para petani juga tak ingin buah kelapa sawitnya membusuk.

"Ya mau gimana lagi mas, namanya kebutuhan hidup dan cuma ini yang kami bisa lakukan, jadi daripada buahnya membusuk kalau tidak dipanen, ya lebih baik kita panen aja meski kita mengalami kerugian yang cukup parah. Ada beberapa petani sawit di kebun sawit sekitar sini juga yang enggan melakukan panen karena rendahnya harga TBS kelapa sawit, sehingga buahnya dibiarkan membusuk diatas pohon," tutupnya. (Iqbal)

Berita Terbaru