Potretkota.com - Program bantuan Rp5 juta untuk pemuda di tingkat RW di Surabaya dinilai berpotensi menciptakan patronase modern melalui kanal distribusi tunggal, meski dimaksudkan untuk pemberdayaan generasi muda.
Ketua Caretaker Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Surabaya, Musyafaah Mia Kurniati, S.Pd, menyebutkan bahwa Peraturan Wali Kota (Perwali) Surabaya Nomor 9 Tahun 2026 menetapkan Karang Taruna RW sebagai pintu tunggal akses bantuan.
Baca Juga: Hakim Tipikor Heran Biro Kesra Pemprov Jatim Beri Hibah Seragam GP Ansor Bondowoso Rp1,2 Miliar
“Negara secara implisit memilih siapa yang sah, siapa yang dekat, dan siapa yang dibiarkan di luar pintu akses dana,” ujar Mia, Rabu 8 April 2026.
Menurut Perwali tersebut, bantuan diberikan melalui proposal, verifikasi camat, pencairan non-tunai, serta pertanggungjawaban melalui lurah dan camat. Tujuannya, menurut Pemkot, adalah memastikan dana digunakan sesuai program yang jelas, bukan sekadar pengeluaran.
Namun, kritik muncul karena kanal distribusi tunggal berpotensi membatasi partisipasi pemuda. Organisasi kepemudaan lain, komunitas kreatif, kelompok wirausaha, dan jaringan independen tidak memiliki akses yang setara. “Efisiensi administratif tidak bisa dijadikan alasan untuk menyederhanakan realitas sosial pemuda yang plural,” kata Mia.
Baca Juga: Muscab PKB Sidoarjo Diwarnai Kekecewaan Sejumlah PAC
Kebijakan ini juga dikritik dari perspektif ekonomi kota dan geoekonomi regional. Surabaya sebagai simpul perdagangan dan jasa di Jawa Timur menghadapi kompetisi ekosistem talenta di tingkat ASEAN. Program dengan kanal tunggal dipandang justru menutup ruang kolaborasi lintas komunitas, sehingga mengurangi kepadatan jaringan inovasi yang menjadi daya saing kota modern.
Meski dana Rp5 juta per RW relatif kecil dibandingkan APBD Surabaya 2026 yang diproyeksikan Rp12,755 triliun, dampaknya signifikan secara politik. Kanal tunggal dapat memperkuat posisi aktor tertentu dan menggeser fokus dari kompetisi gagasan ke kedekatan dengan struktur resmi.
Baca Juga: Gerimis dan Banjir Tak Surutkan Langkah MAKI Jatim Berbagi Takjil
Mia menekankan solusi yang lebih inklusif, yaitu membuka kanal tambahan untuk organisasi kepemudaan non-Karang Taruna dan komunitas independen, dengan mekanisme transparan dan publikasi pertanggungjawaban.
“Kota yang membuka banyak pintu akan mampu memelihara talenta. Kota yang hanya percaya pada struktur akan kehilangan kreativitas pemudanya,” pungkas Mia. (Hyu)
Editor : Redaksi